Insiden penyerangan kapal tanker minyak di Teluk Oman. Foto Istimewa

Intainews.com:“Apa yang membuat AS tidak mengubah kebijakannya dari perang ekonomi ke konflik militer terbuka adalah fakta bahwa rudal buatan Iran kini bisa menghancurkan persenjataan AS yang paling canggih,” kata Sayed Muhammad Marandi, pengamat politik Iran kepada kantor berita Turki, Anadolu.

Dia meyakini perang AS dengan Iran bisa membuat bencana ekonomi global karena jika perang terjadi maka sumber gas dan minyak di Teluk Persia akan terancam dan Selat Hormuz akan ditutup.

Analisa ini muncul setelah hubungan Iran dan Amerika Serikat sekarang ini disebut-sebut dalam kondisi di ambang perang setelah Presiden Donald Trump Mei tahun lalu memutuskan keluar dari kesepakatan nuklir Iran yang dibuat pada 2015.

Pekan lalu Iran menembak jatuh pesawat nirawak AS, RQ-4A Global hawk, yang dikatakan melanggar wilayah udara Iran di Teluk Oman. AS mengatakan pesawat drone mereka sedang terbang di wilayah udara internasional ketika melintasi Selat Hormuz, rute penting kapal dagang.

Dikutip dari laman Anadolu, Kamis 27 Juni 2019, insiden itu membuat AS menyiapkan rencana serangan balasan namun Presiden Trump kemudian membatalkan serangan itu di detik-detik terakhir.

Iran yakin menang jika betempur dengan Amerika Serikat

Rangkaian peristiwa itu memicu perdebatan soal apakah AS dan Iran bisa benar-benar terlibat perang sebenarnya. Sayed Muhammad Marandi, pengamat politik Iran yang juga terlibat dalam negosiasi kesepakatan nuklir Iran pada 2015 mengatakan kecil kemungkinannya AS dan Iran akan berperang.

“Itu menunjukkan ada banyak target AS di kawasan yang dalam kondisi rawan dan berada dalam jangkauan Iran,” kata dia. Banyak kalangan berpendapat Washington tidak akan mampu melancarkan perang di kawasan Asia Barat.

Bulan lalu militer AS mengumumkan mereka mengerahkan kapal induk Abraham Lincoln untuk mengantisipasi kemungkinan perang dengan Iran di Teluk Persia.
“Setelah beberapa pekan pamer kekuatan, kapal itu ditarik mundur karena Iran tidak mengubah posisinya terhadap AS,” kata Syed Sajjad, pengamat Timur Tengah.

Marwa Usman, jurnalis dan pengamat politik Timur Tengah mengatakan pilihan untuk berperang tidak mendapat dukungan mayoritas dari rakyat Amerika dan Iran bisa berbalik membalas dengan keras.

“Pesan dari Teheran kepada Gedung Putih jelas: Iran akan tunduk kepada ancaman dan tekanan dan siap menghadapi perang total,” ujar Usman. Pengamat politik Ali Ahmadi mengatakan meski Iran dan AS paham perang bukan menjadi kepentingan mereka namun ketegangan yang terjadi bisa menimbulkan kesalahan perhitungan yang memicu konflik.

“Ketegangan ini disebabkan Washington meninggalkan kesepakatan nuklir Iran, menyebut Garda Revolusi sebagai organisasi teroris dan bersikap keras terhadap Iran,” kata Ahmadi. Bulan lalu pejabat AS menyalahkan Iran atas insiden penyerangan kapal tanker minyak di Teluk Oman namun Teheran membantah tuduhan itu