John Lennon, foto semasa hidupnya. Foto Istimewa

Intainews.com:38 tahun silam, seorang pria mengaku bersalah atas penembakan mantan personal The Beatles John Lennon dikutip dari laman BBC History, Sabtu 22 Juni 2019 hakim di pengadilan mendengar pernyataan Mark Chapman yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Lenon.

Dengan mengatakan, Tuhan telah memerintahkannya untuk melakukan pengakuan. Tim kuasa hukumnya sendiri terkejut oleh pernyataan itu dan pengacaranya telah meminta hakim memeriksa kliennya untuk memastikan dia sehat secara mental untuk diadili.

Chapman menembak John Lennon di luar gedung apartemen the Dakota di New York, di mana korban tinggal bersama istrinya, Yoko Ono, dan putra mereka, Sean. Peristiwa itu terjadi pada 8 Desember 1980.

Di hari pembunuhan itu terjadi, Chapman yang merupakan seorang penggemar The Beatles menghabiskan hari dengan bersantai di dekat apartemen Lennon yang terletak di West 72nd Street dan Central Park West.

Sore itu, seorang fotografer sempat memotret Lennon ketika pria kelahiran 9 Oktober 1940 tersebut memberi tanda tangan pada album “Double Fantasy” milik Chapman.
Setelah menandatangani album tersebut, Lennon yang bersama Yoko saat itu langsung menuju limosin untuk pergi rekaman. Namun, di kawasan tempat tinggal mereka, Chapman setia menunggu.

Pada malam harinya, sesaat sebelum pukul 23.00, pasangan itu kembali ke kediaman mereka dan terjadilah tragedi:Lennon ditembak sebanyak empat kali ketika memasuki gedung apartemennya.

Pasca-penembakan tersebut, Chapman tak berusaha melarikan diri. Ia tetap berada di lokasi kejadian, membaca “The Catcher in the Rye” karya J D Salinger. Novel itulah yang disebut-sebut menginspirasi tindakan Chapman.

Chapman berada di sana hingga polisi datang dan menggelandangnya ke tahanan. Sementara itu, Wikipedia melansir, Lennon meninggal dunia dalam perjalanannya ke rumah sakit Roosevelt.

Pelaku sempat mengajukan pembelaan yang menyebutkan dirinya tidak bersalah dan alasannya perbuatannya adalah gangguan kejiwaan meski belakangan, ia memutuskan mengakuinya. “Tuhan telah menitahkanku berbuat demikian”, itulah penjelasan Chapman terkait dengan pembunuhan John Lennon.

Dalam satu titik di hidupnya, Chapman berubah menjadi seorang fundamentalis. Itu memengaruhi pandangan-pandangannya. Ia kemudian meyakini bahwa The Beatles membawa pengaruh buruk bagi banyak orang, Lennon khususnya, terkait pandangannya atas agama dan negara.

Chapman sendiri diketahui memiliki banyak masalah dalam hidupnya. Terinspirasi film “Around the World in Eighty Days“, sosoknya berkelana ke Tokyo, Seoul, Hong Kong, Singapura, Bangkok, New Delhi, Israel, Jenewa, London, Paris, dan Dublin. Ia kembali ke Amerika Serikat dan kemudian pindah ke Hawaii.

Seperti John Lennon, ia menikahi seorang wanita Jepang, namun pernikahannya tak bahagia. Chapman bekerja dengan upah rendah, sebagai seorang petugas keamanan.
Bahkan di hari penghakimannya, tepatnya pada 24 Agustus 1981, Chapman yang didakwa dengan pembunuhan tingkat kedua tetap membaca “The Catcher in the Rye“.

Permintaannya untuk pembebasan bersyarat ditolak. Di muka pengadilan, Yoko mengatakan bahwa kematian Lennon masih melukainya dan anaknya setiap hari. Mereka masih merasa kehilangan.

Yoko juga mengingatkan, bagaimana tindakan Chapman menjadi salah satu dari banyak keangkuhan dalam kasus pembunuhan terkenal. Pembebasan Chapman menurutnya hanya akan mengilhami orang lain untuk berbuat serupa.

Pengadilan mendengar kata-katanya dan pengajuan pembebasan bersyarat Chapman pun terus ditolak. Pria itu diharuskan menjalani hukumannya di Penjara Negara Attica, New York.