Presiden Iran Hassan Rouhani. Foto Istimewa

Iran-Intainews.com:Beberapa pekan terakhir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat saling ancam mengarah ke peperangan. Pemerintah Iran mengatakan tidak akan menyerah terhadap tekanan AS Kamis (23/5).

“Lebih dari satu tahun setelah pengenaan sanksi berat ini, tetapi warga kami tidak tunduk pada tekanan meski menghadapi kesulitan dalam hidup mereka,” ujar Presiden Iran Hassan Rouhani dikutip oleh kantor berita IRNA, Jumat 24 Mei 2019,

Rouhani mengatakan diperlukan perlawanan agar musuh-musuh Iran mengetahui kekuatan dari negara itu yang sebenarnya. Ia menekankan Teheran tak akan pernah memberikan mengorbankan tujuan dalam mencapai kemerdekaan serta harga diri mereka.

“Kita perlu perlawanan sehingga musuh tahu bahwa jika mereka mengebom tanah kita dan jika anak-anak kami mati syahid, terluka atau menjadi tahanan, kami tidak akan memberikan tujuan kami untuk kemerdekaan negara kami dan harga diri kami,” kata Rouhani.

Ketegangan telah meningkat antara dua negara dalam beberapa pekan terakhir, menyusul langkah AS mengirimkan pasukan ke Timur Tengah. AS mengatakan langkah tersebut diperlukan atas indikasi ancaman Iran terhadap pasukan serta kepentingan negara tersebut di Timur Tengah.

Kelompok kapal perang dan satuan pembom Negeri Paman Sam telah dikerahkan ke kawasan tersebut. Konflik antara Teheran dan Washington telah dimulai sejak Presiden AS Donald Trump pada tahun lalu memutuskan agar negaranya mundur dari perjanjian nuklir Iran 2015 yang dibuat bersama dengan enam negara dalam Dewan Keamanann PBB.

Tak hanya itu, AS kemudian memberikan sejumlah sanksi yang menekan Iran, mulai dari larangan ekspor minyak, serta sejumlah sanksi ekonomi yang dikenakan kepada individu dan para pelaku bisnis.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa kesabaran Teheran telah berakhir kepada utusan Jerman, sebagai salah satu negara yang berusaha menjaga perjanjian nuklir 2015. Ia dilaporkan juga mendesak penandatanganan perjanjian yang tersisa, untuk memenuhi komitmen yang telah dicapai, setelah AS menarik diri dari kesepakatan.