Demo Iran, bakar bendera dan Donald Trump

Washington-Intainews.com:Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melayangkan ancaman kepada Iran pekan lalu. Ancaman tersebut semakin meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk.

Informasi dihimpun Intainews.com, hingga Selasa 21 Mei 2019, “Jika Iran ingin pertempuran, itu akan menjadi akhir resmi Iran. Jangan pernah mengancam AS lagi,” kata Trump melalui akun Twitter pribadinya.

Sebelumnya, Komandan Korps Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salami mengatakan siap menghadapi segala ancaman yang ditujukan padanya. “Iran tak mencari perang, tapi siap menghadapi segala kemungkinan ancaman,” ujar Salami saat berbicara di sebuah upacara yang dihadiri pejabat senior Garda Revolusi Iran di Teheran.

Terkait hal ini, dia menyinggung tentang ancaman yang sedang dilakukan AS terhadap negaranya. AS telah mengutus kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat pengebom B-52 ke Teluk Persia.

Menurut Salami, kendati mengerahkan armada militer, terlibat dalam konflik seperti itu tidak menjadi kepentingan AS. “Perbedaan antara kami dan mereka adalah mereka takut perang dan tidak memiliki keinginan tersebut,” ucapnya.

AS memandang petempur paramiliter di Irak yang didukung Iran sebagai ancaman. (Reuters)

Dia berpendapat, saat ini Iran dan AS sedang terlibat dalam perang intelijen. “Ini berarti kombinasi dari operasi psikologis dan siber, gerakan militer, diplomasi publik, dan intimidasi,” ujar Salami.

AS diketahui sedang memaksa Iran merundingkan kembali kesepakatan nuklir yang tercapai pada 2015. Iran telah menyatakan tak akan.

Apakah AS Akan Perang dengan Iran?

Narasi yang diusung pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, Iran punya tujuan buruk. Negara itu disebut-sebut terlihat berpotensi melancarkan serangan terhadap AS, meskipun hanya segelintir rincian yang diungkap ke publik.

AS pun menanggapinya dengan mengerahkan kekuatan militer ke wilayah sekitar Iran, menarik staf diplomat dari Irak, dan dilaporkan menyusun rencana perang. Pesan ke Teheran jelas. Setiap serangan terhadap target AS dari sumber manapun, apakah Iran atau kelompok dukungannya atau sekutunya di kawasan Timur Tengah akan, direspons dengan aksi militer secara signifikan.

Konflik antara Iran dan AS walaupun tidak disengaja amat mungkin terjadi pada masa sekarang daripada sebelum Trump menjabat presiden. Iran, yang ekonominya menderita karena kembali dikenai rangkaian sanksi AS, melawan balik. Iran mewanti-wanti bahwa mereka boleh jadi tidak lagi mematuhi pengekangan terhadap aktivitas nuklir.*rpo