Vladimir Putin & Donal Trump Foto Istimewa

Intainews.com:PERSAINGAN kekuatan militer Amerika Serikat (AS) dan Rusia memang bukan barang baru. Kedua negara masih terus berlomba-lomba mengembangkan kekuatan militer mereka dengan sederet teknologi canggih.

Presiden Rusia Vladimir Putin pekan ini mengawasi uji coba rudal hipersonik ternyar. Dia menyatakan senjata itu tidak mungkin untuk dicegat, dan akan menjamin keamanan negara itu selama beberapa dekade mendatang.

Rabu lalu setelah menonton siaran langsung peluncuran sistem Avangard dari ruang kontrol kementerian pertahanan Rusia, Putin mengatakan tes itu “sukses besar”, dan menjadi “hadiah Tahun Baru yang sangat baik untuk bangsa”.

Menurut Kremlin, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (27/12), rudal diluncurkan dari pangkalan Dombarovskiy di Pegunungan Ural selatan, dan mencapai sasarannya di lokasi uji coba di Kamchatka, sekitar 6.000 kilometer jauhnya.

“Sistem Avangard tidak bisa dicegat oleh segala kemungkinan pertahanan rudal yang ada saat ini,” kata Putin bangga. Presiden Rusia juga menambahkan senjata baru tersebut akan mulai beroperasi tahun depan, bersama Pasukan Rudal Strategis militer negara itu.

Pesawat tempur tua Jet Tempur Tua A-4 Skyhawk ‘Abadi’

Rudal hipersonik adalah satu di antara berbagai senjata nuklir baru yang dipamerkan Putin pada Maret lalu. Kala itu Putin mengatakan Rusia harus merespons pengembangan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

Ketika pertama kali mempresentasikannya, Putin mengatakan sistem rudal baru memiliki jangkauan antarbenua dan dapat terbang di atmosfer dengan kecepatan 20 kali kecepatan suara, melewati pertahanan rudal musuh.

Dia menekankan bahwa tidak ada negara lain saat ini yang memiliki senjata hipersonik serupa, atau lebih kuat. Putin mengatakan Avangard dirancang menggunakan bahan komposit baru untuk menahan suhu hingga 2.000 derajat celcius, yang berasal dari penerbangan melalui atmosfer dengan kecepatan hipersonik.

Sementara di Amerika Serikat, pasukan Angkatan Udara yang selama ini menjadi andalan dan kebanggaan kini tengah dirundung masalah dana dan teknologi yang sudah tua.

Jet AS T-38 Usianya Hampir 50 Tahun jatuh

Menurut data dari Kantor Anggaran Kongres, pesawat-pesawat tempur milik Angkatan Udara Amerika Serikat kini sudah makin tua. Rata-rata jet tempur AS berusia 28 tahun. Itu berarti ratusan atau bahkan ribuan pilot jet tempur Amerika menerbangkan pesawat yang dibuat ketika mereka bahkan belum lahir.

Pesawat tempur Rusia paling berbahaya

Mengganti banyak pesawat lama dengan model terbaru bisa menyedot dana yang sangat besar, bisa mencapai USD 26 miliar per tahun hingga pertengahan 2030. Angka itu masih di luar ambisi untuk mencapai 74 skuadron jet tempur.

Pemerintahan AS nantinya akan menghadapi pilihan sulit: menambah dana Angkatan Udara hingga setara ketika masa Perang Dingin atau lebih tinggi lagi, atau mengurangi jumlah jet tempur sampai ke jumlah yang masih mampu dioperasikan.

“Menambah jumlah pasukan akan berhadapan langsung dengan masalah modernisasi,” ujar Todd Harrison, pengamat dari Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington, seperti dilansir laman The Daily Beast, pekan ini.

Saat ini Angkatan Udara AS memiliki 5.600 jet tempur dari 312 skuadron, masih yang terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Kantor Anggaran Kongres, umur pesawat itu rata-rata sudah uzur. Sejumlah jet tempur andalan, termasuk A-10, F-16 dan R-15 berusia 26 sampai 40 tahun.

Menurut Autotrader, biasanya orang mengganti mobil setiap enam tahun sekali. Tapi Angkatan Udara AS mungkin harus menunggu hingga separuh abad. Dan pesawat pengebom terkenal B-52 dibuat ketika Presiden John F Kennedy masih berkantor di Gedung Putih.

“Makin tua umurnya, makin sulit mengganti suku cadangnya,” kata Letnan Jenderal Mark Nowland, Wakil Kepala Angkatan Udara kepada perwakilan DPR AS Mei lalu. Lima dari pesawat jet latihan T-38 yang usianya hampir 50 tahun jatuh tahun lalu menewaskan dua orang. *mdc