Tuti Tursilawati (kanan) bersama ibu, sebelum dieksekusi

Tuti dieksekusi mati hanya terpaut enam hari usai Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengadakan pertemuan bilateral.

Intainews.com:Mencari nafkah ke negeri orang kembali tak bernyawa, begitu perjalanan hidup buruh migran Indonesia, Tuti Tursilawati. Dia dieksekusi mati dengan dipancung oleh pemerintah Arab Saudi Senin (29/10).

Tuti asal Majalengka, pergi ke Arab Saudi tahun 2009, untuk bekerja dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sedikit pun tak terlintas di benaknya kalau dia akan pulang tinggal nama.

Tuti di Arab Saudi bekerja sebagai penjaga lansia di sebuah keluarga di Kota Thaif. Di sana, ia bekerja selama 8 bulan dengan sisa gaji tak dibayar 6 bulan. Tuti ditangkap polisi Arab Saudi 12 Mei 2010 atas tuduhan membunuh ayah majikannya, Suud Mulhaq Al Utaibi.

Setelah membunuh korban, Tuti Tursilawati kabur ke Makkah dengan membawa perhiasan dan uang 31.500 riyal Arab Saudi milik majikannya. Malang, dalam perjalanannya ke Makkah, Tuti diperkosa 9 pemuda Arab Saudi.

Mereka juga mengambil perhiasan dan uang yang dibawa Tuti. Sembilan pemuda tersebut telah ditangkap dan dihukum sesuai ketentuan hukum Arab Saudi.
Sejak ditangkap dan ditahan pihak kepolisian, Konsulat Jenderal RI Jeddah melalui satgasnya di Thaif, Said Barawwas, memberikan pendampingan dalam proses investigasi awal di kepolisian.

Kemudian, Said Barawwas juga mendampingi proses investigasi lanjutan di Badan Investigasi. Selama proses investigasi, Tuti Tursilawati mengakui pembunuhan ayah majikannya. Ia beralasan sering mendapatkan pelecehan seksual dan kekerasan.

Apa yang dilakukannya adalah pembelaan diri. Permohonan peninjauan kembali terhadap kasus Tuti sempat dikabulkan oleh pengadilan di Arab Saudi. Pemerintah pun mengupayakan pembebasan terhadap Tuti, namun TKI asal Majalengka itu keburu dieksekusi.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel bin Al-Jubeir (kiri) didampingi Menteri Luar NegeriRepublik Indonesia, Retno Marsudi menandatangani buku tamu jelang pertemuan bilateral di Jakarta, Selasa (23/10). Foto Istimewa

Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, Tuti dieksekusi mati tanpa ada pemberitahuan resmi kepada pemerintah Indonesia. “Pada saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir pekan lalu, Presiden Jokowi meminta Saudi memberikan perlindungan pada buruh migran Indonesia,” ungkapnya.

Ternyata, permintaan tersebut diabaikan oleh Saudi dengan tindakan eksekusi terhadap Tuti bahkan tanpa memberikan konsultasi dan notifikasi. Langkah Arab Saudi mengeksekusi mati Tuti 29 Oktober 2018 hanya terpaut enam hari usai Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengadakan pertemuan bilateral.

Tidak Mendapatkan Notifikasi

Dalam pertemuan itu, keduanya membahas upaya penyelesaian isu yang tertunda seputar perlindungan WNI dan TKI di Negeri Petrodollar. “Jubeir menyampaikan upaya pemerintahannya soal perlindungan TKI di Arab Saudi, terkait: aturan jam kerja, peningkatan upah minimum, dan penghormatan hak-hak pekerja,” tukas Retno.

Indonesia, tambah Retno, juga menekankan kepada Jubeir pentingnya dilakukan kerja sama mengenai notifikasi kekonsuleran (terhadap WNI yang tersandung masalah di Saudi). Kerja sama tentang hal itu sangat lumrah ada karena sesuai dengan Konvensi Wina, mereferensi The Vienna Convention on Diplomatic Relations tahun 1961.

Jubeir juga mengapresiasi pelaksanaan sidang komisi bersama antara RI-Arab Saudi, dengan mengatakan bahwa mekanisme itu, “memberikan kesempatan bagi pemerintahan kita untuk menginstitusionalisasikan hubungan kerja sama antara kedua negara.”

Faktanya Kemarin Arab Saudi mengeksekusi mati Tuti Tursilawati. Dan menurut keterangan Kementerian Luar Negeri RI, pihak Perwakilan RI di Saudi Arabia tidak mendapatkan notifikasi. *Tpc-Lpc