drg Tony Hermasyah (foto-Ist).
Medan- Intainews.com: Juru bicara CV Rafa Jaya Perkasa drg Tony Hermasyah menuding oknum di Asosiasi Pengelola Corporate Social Responsibility Republik Indonesia (APCRI), menjadi otak penipuan diduga mencapai miliaran rupiah, terhadap sejumlah pengusaha baik di dalam maupun di luar pulau Jawa.

 

Tudingan tersebut disampaikannya dalam wawancara khusus Intainews.com ketika dihubungi via telepon genggam saat dia berada di Jakarta, Senin malam (20/01/2020), terkait banyaknya pelaku usaha yang ikut menjadi kontraktor dalam program Indonesia Terang yang dicanangkan belum lama ini.

Digelontorkannya penawaran pekerjaan terkait program Indonesia Terang, berupa pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya, meliputi seluruh kabupaten di Indonesia. Ternyata tidak sedikit jumlah perusahaan yang mendaftarkan diri menjadi mitra, guna memperoleh  pekerjaan tersebut.

Terkait dengan program itu pula, para pelaku usaha yang ingin menjadi mitra kerja harus menjadi bagian dari asosiasi (APCRI). Untuk pembuktian terpenuhinya ketentuan, pengurus APCRI  menerbitkan kwitansi yang bunyinya pembayaran uang pangkal keanggotaan. Kemudian disusul Surat Keputusan Pengangkatan Menjadi Anggota (SKPMA)  APCRI.

Berikutnya dilampiri Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), termasuk Surat Perintah Lapangan (SPL) kepada stakeholder perusahaan dengan sebutan sebagai “Anggota Pelaksana”.

Menurut Tony, berdasarkan pembekalan dokumen yang dimiliki perusahaan, melalui Asosiasi Pengelola CSR Republik Indonesia tersebut, mereka turun ke lapangan melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan, mensosialisasikan, penawaran pekerjaan terkait program Indonesia Terang, berupa pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya, per desa atau kelurahan standard minimalnya tercatat 25 unit.

Selanjutnya pihak desa/kelurahan terkait, bertugas menentukan 25 titik nol di setiap lokasi yang dicalonkan akan memperoleh pemasangan Lampu Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya.

Selanjutnya disusul turunnya Tim APCRI melakukan survey dan pendataan ulang, terhadap kebenaran ke 25 titik nol di 20 desa per kabupaten/kota dimaksud.

Tetapi hingga kini program tersebut tak juga terbukti, sehingga para pelaku usaha yang telah mendaftar sebagai mitra kecewa dan diduga program tersebut fiktif, padahal para kontraktort sudah mengeluarkan biaya.

“Bukan kami saja yang kecewa dengan para oknum di APCRI, banyak perusahaan mitra lainnya kecewa bahkan ada yang sudah mengajukan tuntutan pengembalian biaya yang sudah disetorkan, katanya.Inc.Hsy