Imam Nahrawi. Foto Istimewa

Total dugaan penerimaan Rp 26,5 M, terindikasi merupakan commitment fee proposal hibah. Ancaman hukuman tidak main-main, bisa dipenjara 20 tahun

Jakarta-Intainews.com:Setelah Menteri Pemuda dan Olahraga [Menpora] Imam Nahrawi dijadikan tersangka kasus suap diduga Rp 26,5 miliar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK], Dia pun muncul di depan publik, langsung di hadapan wartawan.

Imam menyebutkan, dirinya bakal mematuhi proses hukum yang berlaku. Tetapi politikus PKB itu siap untuk beradu bukti dengam KPK atas tuduhan dan penetapan tersangka dirinya. “Sebagai warga negara saya punya hak juga untuk memberikan jawaban yang sebenarnya agar proses hukum ini bisa berjalan dengan baik, dengan lancar,” tuturnya tenang.

Pada saatnya, tandasnya, itu harus kita buktikan bersama-sama. “Karena saya tidak seperti yang dituduhkan, dan saya akan ikuti nanti seperti apa proses yang ada di pengadilan,” ungkap Imam di rumah dinas Widya Chandra, Jakarta, Rabu 18 September 2019 malam.

Imam juga berbicara asas praduga tak bersalah harus tetap dikedepankan dalam penanganan kasus terhadap dirinya. Ia mengatakan bakal menyampaikan materi berkenaan kasus suap dana hibah KONI dalam proses hukum lanjutan.

Diketahui sebelumnya, KPK telah menentapkan Menpora Imam Nahrawi sebagai tersangka. Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan Imam Nahrawi sejak periode 2014 sampai 2018 bersama Miftahul Ulum asisten pribadinya diduga meminta sejumlah uang yang mencapai Rp 14,7 miliar.

Dalam rentang waktu tersebut, Imam dan asprinya kembali meminta uang sebesar Rp 11,8 miliar. “Sehingga total dugaan penerimaan Rp 26,5 miliar terindikasi merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan oleh pihak KONI kepada Kemenpora tahun 2018,” ungkap Alexander di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu 18 September 2019.

Saat ditanya wartawan soal tuduhan telah menerima suap senilai Rp26 miliar sejak awal menjabat sebagai Menpora, Imam menantang balik KPK. “Buktikan saja [kalau saya memang menerima suap]. Jangan menuduh orang sebelum ada buktinya,” kata Imam.

Atas perbuatan itu, sebagai yang disangkakan KPK, Imam disangka dengan pasal huruf a atau b atau pasal 12B UU nomor 20 tahun 2001. Apabila merujuk ke pasal tersebut, ancaman hukumannya tidak main-main yakni penjara 4-20 tahun dan denda Rp200 juta hingga Rp 1 miliar. *Inc-16