Orang tua korban Otorius Harefa

Gunungsitoli-Intainews.com:Pihak keluarga korban anggap pengakuan BW [20] mahasiswa yang membunuh Jimmi Sohahau Harefa [17] pelajar di Kota Gunungsitoli, Rabu 21 Agustus 2019 tidak jujur dan terkesan diskenariokan

Informasi dihimpun Intainews.com, Kamis 29 Agustus 2019, keluarga korban meminta penyidik Polisi Resor Nias mendalami motif pembunuhan korban agar pelaku tidak lepas dari jeratan hukum dan pelaku lainnya bisa terungkap. Hal tersebut disampaikan orang tua korban Otorius Harefa kepada media saat ditemui di Kaliki Resto, Kota Gunungsitoli.

“Kita berterima kasih kepada polisi yang telah mengungkap siapa pelaku pembunuhan terhadap anak saya,” ucap Otorius Harefa. Namun menurut dia ada kejanggalan pengakuan tersangka BW [20] kepada Polisi yang disampaikan Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan, S.Ik,MH kepada media.

Dia ragu motif pembunuhan terhadap korban murni pencurian, karena jika pelaku niatnya hanya mencuri untuk bayar utang, pelaku tidak mungkin menghabisi korban yang sedang tidur. Dari Otorius diketahui, selain laptop, kamera dan telepon seluler yang dicuri pelaku, barang lainnya milik korban yang belum ditemukan polisi adalah jam tangan dan dompet.

Ancaman 15 Tahun Penjara

“Di kamar anak saya masih ada barang berharga Handycamp yang tidak diambil pelaku, dan banyak barang berharga lainnya di kamar kami, ada sepeda motor yang kuncinya ada di motor juga tidak dibawa pelaku jika murni mencuri,” ungkapnya.

Otorius berharap Polisi mendalami lagi motif pembunuhan terhadap anaknya serta membuat berita acara pemeriksaan tersangka menjadi lebih baik lagi. Kapolres Nias AKBP Deni Kurniawan,S.Ik ,MH sebelumnya, Selasa 27 Agustus 2019 membeberkan kepada media bahwa motif pembunuhan terhadap korban murni pencurian.

Pelaku nekat mencuri di rumah korban karena terlilit utang akibat game online, dan korban dibunuh saat tidur dengan cara kepala dipukul pakai martil [palu] empat kali. Tersangka BW juga mengaku melalukan aksinya hanya sendiri dan pasal yang dikenakan kepada tersangka adalah pasal 365 KUHP yunto pasal 80 undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. *Inc-12