Umar Ritonga. Foto Istimewa

Medan-Intainews.com:Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK] menangkap buronan tersangka kasus dugaan suap eks Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap, Umar Ritonga. “Umar ditangkap ditangkap di rumahnya pukul 07.00 WIB,” kata juri bicara KPK, Febri Diansyah, Kamis 25 Juli 2019.”

Menangkap Umar yang setahun daftar pencarian orang [DPO] dibantu oleh anggota Polres Labuhanbatu. Selain itu, kata Febri, pihak keluarga serta lingkungan tempat tinggal Umar bersikap kooperatif membantu KPK.

“Pihak keluarga bersama Lurah setempat juga koperatif menyerahkan Umar untuk proses lebih lanjut. KPK menghargai sikap koperatif tersebut,” ujar Febri. Tersangka pelaku makelar Umar langsung dibawa ke kantor KPK di Jakarta untuk proses hukum.

Terbukti Terima Suap

KPK berharap setelah penangkapan Umar ini menjadi pembelajaran untuk tersangka-tersangka yang lain. KPK minta semua tersangka baik berstatus DPO atau bukan untuk bersikap kooperatif.

Umar Ritonga & mantan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap. Foto Istimewa

Dalam kasus ini, eks Bupati Labuhanbatu Pangonal ditangkap KPK pada Selasa (17/7/2018) terkait dugaan transaksi suap dari pengusaha Effendy Sahputra melalui sejumlah orang perantara. Pengusaha Effendy disebut mengeluarkan cek senilai Rp 576 juta yang dicairkan di BPD Sumut oleh orang kepercayaannya berinisial AT.

Duit pencairan cek ini kemudian dititipkan kepada petugas bank, lalu diambil orang kepercayaan Pangonal, Umar Ritonga. Sekitar pukul 18.15 WIB, orang kepercayaan Umar datang ke bank mengambil uang Rp 500 juta dalam tas keresek yang dititipkan kepada petugas BPD Sumut.

Tapi Umar kabur saat akan ditangkap. KPK mengatakan sempat mengejar Umar. Pangonal sudah divonis bersalah dalam kasus ini. Dia dihukum 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan karena dinilai terbukti menerima suap sebesar Rp 42,28 miliar dan SGD 218.000 dari pengusaha.

Pangonal di Lapas Tanjunggusta

Selain itu, menurut hakim, Pangonal dikenai uang pengganti sebesar Rp 42,28 miliar dan SGD 218.000. Dia juga dijatuhi hukuman pencabutan hak politik selama 3 tahun. Pelaku makelar Umar Ritonga ini buron setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan [OTT] terkait dugaan tipikor dalam proyek Pemkab Labuhanbatu, Sumatera Utara, Juli 2018.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan kepada wartawan ditangkapnya Umar Ritonga. Foto Istimewa

Awalnya, ungkap Febri kepada wartawan, tim KPK mengetahui Umar tengah berada di kediaman pribadinya. Tim KPK pun melakukan penjemputan terhadap Umar. Dalam kasus ini enam orang ditangkap KPK kala itu adalah Pangonal Harahap, Pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra.

Berikut juga ditangkap Kepala Dinas PUPR Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Khairul Pakhri, Tamrin Ritonga [swasta], pegawai Bank Pembangunan Daerah [BPD] Sumatera Utara berinisial H, dan ajudan Pangonal berinisial E.

Vonis terhadap Pangonal Harahap pun sudah inkrah dan dia dieksekusi KPK ke Lapas Tanjung Gusta, Medan, pada 18 April 2019 untuk menjalani hukuman pidana yang diterimanya. * Inc-05-Inc-17