Gunungsitoli-Intainews.com:Pengacara kasus narkoba Itamari Lase,SH,MH minta majelis hakim menolak dakwaan Jaksa Penuntut Umum [JPU] dan membebaskan kliennya [foto] dari rumah tahanan negara. Dia berasumsi dakwaan JPU yang dibaca minggu lalu, Kamis 4 Juli 2019 di Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Sumatera Utara tidak relefan, dan ada fakta yang sulit diungkap.

Permohonan disampaikan Itamari Lase, SH,MH pada sidang pembacaan eksepsi yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Merri Donna Pasaribu di Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Kamis 11 Juli 2019. “Sejak awal saya mengamati kasus ini,  ada fakta yang sulit diungkap, dan dakwaan alternatif pertama yang diberikan JPU tentang melanggar pasal 114 yunto pasal 55 ayat 1 dan seterusnya menurut kami tidak relefan,” ucapnya.

Menurut dia, JPU memberikan dakwaan alternatif pasal 114, 112, 127 dan pasal 55 terhadap kliennya karena JPU tidak mengetahui secara pasti kejadian. “Pada dakwaan JPU dikatakan tempat peristiwa dan waktu pidana di wisma Soliga, padahal fakta sebenarnya di wisma Soliga saat itu ada perayaan hari raya Imlek dan banyak keluarga kliennya yang bertamu termasuk terdakwa lainnya Kri,” jelasnya.

Sehingga pada hari tersebut sesuai tempat kejadian perkara dan waktu kejadian, kliennya tidak pernah masuk dalam aula apalagi untuk menggunakan sabu sesuai dakwaan JPU. Fakta lainnya menurut Itamari Lase,SH,MH, terdakwa Kri datang ke wisma Soliga untuk menghadiri perayaan Imlek di wisma soliga, dan setelah jamuan makan Kri pamit kepada kliennya untuk pulang ke rumah.

Kliennya tidak tahu Kri pulang ke mana dan Kri tidak pernah kembali ke wisma Soliga untuk bertemu kliennya, dan tidak pernah memakai narkoba apalagi bersama istri kliennya. Kepada majelis Hakim, Itamari Lase,SH juga berharap seharusnya perintah penangkapan ikut didaftarkan pada pemeriksaan saksi-saksi, karena waktu kejadian pukul 14.00 WIB, dan juga penangkapan sesuai dakwaan JPU tanggal 5 Februari 2019 terjadi kesimpang siuran.

“Faktanya pada penangkapan klien saya tidak ada barang bukti narkotika, dan jika kedua klien saya didakwa pecandu narkotika, maka sesuai undang-undang keduanya wajib menjalani rehabilitasi,” terangnya. Fakta lainnya menurut Itamari, pada dakwaan JPU dijelaskan jika Polisi sudah mengikuti Kri saat memesan narkoba jenis sabu kepada BD dan melihat saat transaksi.

Namun, kenapa Polisi tidak ikut menangkap BD sebagai bandar dan terindikasi membiarkan BD pergi dan terkesan dibiarkan. Sehingga dakwaan JPU sangat merugikan kliennya karena tidak cermat dan teliti, dan meminta majelis hakim untuk membatalkan.

“Kami memohon hakim menerima eksepsi kami dan surat dakwaan JPU tidak dapat diterima serta melepaskan klien kami dari rutan dan membebaskan dari biaya perkara,” pintanya. Hal senada juga disampaikan Ikhtiar Elfasri Guko,SH atau pengacara terdakwa Kri kepada majelis hakim agar kliennya dibebaskan dan menerima eksepsi mereka dan membatalkan dakwaan JPU.

Pengacara Ikhtiar Elfasri Gulo,SH dalam eksepsinya menjelaskan jika tanggal kelahiran kliennya Kri pada dakwaan JPU tidak sesuai yang ada dalam kartu tanda penduduk kliennya atau berbeda. Pada surat dakwaan JPU sebelumnya juga tidak diberitahu secara cermat waktu dan tempat kejadian perkara, dimana pada pukul 14.00 WIB kliennya berada di wisma Soliga, pada waktu yang sama pukul 14.00 WIB kliennya berada di perumahan Bank Sumut dan pukul 14.00 wib dihari yang sama saksi polisi turun dari mobil.

Kemudian dia juga mengungkapkan, pada dakwaan JPU pukul 14.30 WIB saksi atau Pokisi turun dari mobil dan melakukan penggeledaah terhadap terdakwa atau kliennya. Namun pada pukul 14.30 WIB dalam dakwaan JPU juga disampaikan jika BD mengantar sabu kepada terdakwa atau kliennya. “Pada dakwaan JPU tidak tertera alamat perumahan Bank Sumut, apakah perumahan Bank Sumut tersebut berada di Kota Gunungsitoli atau daerah lainnya,” tuturnya.

Sehingga dia juga meminta majelis Hakim membatalkan dakwaan JPU demi hukum, menerima esepsi kliennya dan membebaskan terdakwa atau kliennya. Usai pembacaan eksepsi ketiga terdakwa, Ketua Majelis Hakim Merry Donna Pasaribu, SH,MH menutup sidang dan sidang dilanjutkan minggu depan, Kamis 18 Juli 2019 dengan agenda sanggahan JPU terhadap Eksepsi terdakwa.*Inc-12