Ilustrasi. Istimewa

Hakim memberikan hukuman tambahan berupa suntikan kimia dengan tujuan kebiri. Obat ini akan membuat pelaku tak lagi mampu ereksi.

Mojokerto-Intainews.com:Pemerkosa sembilan anak-anak, Muhammad Aris (21), mendapat vonis berat dari majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Kamis 2 Mei 2019. Selain harus menjalani hukuman penjara 12 tahun, warga Mangelo Tengah, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, ini juga akan dikebiri.

Ketua majelis hakim, Joko Waluyo, menjatuhkan vonis 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta subsidair 6 bulan penjara. Vonis ini lebih rendah dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yakni selama 17 tahun dan denda Rp 100 juta subsidair 6 bulan penjara.

Meski vonis lebih ringan, namun hakim memberikan hukuman tambahan berupa suntikan kimia dengan tujuan kebiri. Obat inilah akan membuat terdakwa tak lagi mampu ereksi. Hukuman berat yang diberikan hakim ini menyusul perilaku terdakwa yang sangat kejam, keji dan tak manusiawi.

Seperti yang dialami bocah di sebuah masjid Mangelo, Sooko dan perumahan Surodinawan, Kota Mojokerto pada Oktober 2018 silam. Kuasa hukum Aris, Handoyo menilai, jika hukuman terhadap kliennya tersebut terlalu berat.

“Vonis 12 tahun yang akan dijalani sudah cukup untuk mengevaluasi perbuatannya. Kalau masih ada tambahan suntikan kimia, tentu jauh lebih berat,” jelas Handoyo, Jumat 3 Mei 2019.

Pasalnya, terdakwa tak hanya menjalani sidang ini saja. Di wilayah hukum Kota Mojokerto, terdakwa juga tengah menjalani sidang dan masih dalam tahap mendengarkan saksi-saksi dan segera mendengar tuntutan JPU.

Di wilayah hukum Kota Mojokerto, terdakwa juga divonis 12 tahun penjara. “Kalau kasus yang di kota juga divonis 12 tahun, berarti sudah 24 tahun harus dijalani. Saya rasa, waktu itu sudah sangat panjang untuk merenung. Untuk itu, kami akan banding karena vonis itu sudah sangat berat bagi klien kami,” tambah Handoyo.

Sementara itu, JPU Syarief Simatupang, SH menegaskan, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto masih menimbang putusan hakim tersebut. “Terdakwa telah melanggar UU Perlindungan Anak karena tega melakukan pemerkosaan terhadap 9 anak. Terdakwa mengakui itu. Kami rasa, putusan itu sudah tepat,” tegasnya.

Hakim PN Mojokerto Joko Waluyo tak sekali ini memberikan hukuman berat terhadap pelaku pemerkosaan anak. Maret 2019 lalu, seorang terdakwa kasus pembunuhan disertai pemerkosaan anak di bawah umur, Rosat (48) dijatuhi hukuman mati. Putusan itu jauh dari tuntutan JPU selama 15 tahun dan denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan. * bjc