Surabaya-Intainews.com:Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut artis VA (foto-istimewa) meminta salah satu muncikari, yakni ES alias Sik, mencarikan pelanggan untuknya saat sepi job. Hal itu dikatakan oleh JPU Dhini Ardhany saat membacakan dakwaan V dalam kasus pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terkait penyebaran konten asusila, di Ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu 24 April 2019.

“Atas dasar tersebut maka 12 November 2018 terdakwa menghubungi ES melalui chatting WhatsApp dan meminta pekerjaan melayani tamu untuk berhubungan seks BO (booking order/booking out),” kata Jaksa Dhini.

Hal itu, kata Dhini, dilakukan karena VE mencari penghasilan tambahan untuk perayaan ulang tahunnya. Tet dan Sik, dua muncikari yang terkait kasus prostitusi online yang melibatkan VA. Kepada Siska, lanjutnya, Vanessa juga berjanji akan berhenti ‘nakal’ karena mengaku akan menikah. “Kemudian dari percakapan media WhatsApp tersebut terdakwa berjanji akan berhenti untuk menjadi nakal karena dirinya ingin menikah,” kata Dhini.

Dari percakapan itu kemudian Siska pun menghubungi muncikari lain bernama Fitriandi. Ia mengatakan Vanessa bersedia melayani BO alias jasa seks dengan kamar tak disediakan oleh muncikari.

Dhany pun menyampaikan kepada Tentei, ada laki-laki di Surabaya mencari artis yang bisa diajak melakukan hubungan seks. Selanjutnya Tentri pun menghubungi muncikari lain bernama Winindya.

“Selanjutnya saksi Tentri menghubungi (muncikari) Intan Permata Sari Winindya Chasanovri alias Winindya alias Nindy. Oleh Nindy, dikirimlah foto-foto artis yang dapat di ajak kencan seks pada Dhany dimana sebagian besar foto-foto tersebut berbusana bikini yang menunjukkan sensualitas wania,” tegasnya.

Foto Istimewa

Setelah itu, Dhini menyebut, dalam percakapan antara Vanessa dengan Siska, terungkap Vanessa sempat minta untuk dinaikkan harga jasanya. Setelah disepakati, uang pun lantas ditransfer dengan kondisi sudah terpotong fee jasa muncikari.

“Setelah dipotong komisi, sehingga yang diterima oleh terdakwa sebesar Rp 35 juta, dan akhirnya dikirimkan pula tiket pesawat Batik Air sesuai dengan permintaan terdakwa, pemberangkatan dari Bandara Halim Perdanakusuma, menuju Bandara Juanda Surabaya,” baca Dhini.

Di hotel tersebut, VE lantas bertemu dengan pria bernama RS, yang ternyata sudah menunggu di dalam kamar. Saat itulah, keduanya digerebek dan diamankan oleh Kepolisian Daerah Jawa Timur.

“[Polisi] menerima laporan masyarakat terdakwa sebagai pelaku prostitusi online, dan selanjutnya melakukan patroli dunia maya dan mengetahui keberadaan terdakwa di hotel Vasa Jalan HR Muhammad Surabaya, kemudian dilakukan penyelidikan dan pada 5 Januari 2019 dilakukanlah penggerebekan di kamar 2721 hotel Vasa,” tutur Dhini.

JPU pun menjerat Vanessa dengan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 Jo. Pasal 45 ayat (1) UU No. 19 Tahun 2016 tentang ITE juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Usai dibacakan dakwaan, Majelis Hakim Dwi Purwadi pun meminta seluruh hadirin untuk meninggalkan ruang persidangan, lantaran kasus ini disebutnya bakal berjalan tertutup. *cnc