Polres Tapsel saat memaparkan kasus money politic yang Terkena OTT. foto Istimewa

CATATAN TANTAWI PANGGABEAN

Tapsel-Intainews.com:Wakil Bupati Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, Ha h terjaring operasi tangkap tangan (OTT) money politics. Hah  diduga terlibat bagi-bagi uang untuk memenangkan istrinya, MS yang merupakan calon anggota legislatif dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Informasi dihimpun Intainews.com Selasa 16 April 2019, menurut Kasat Reskrim Polres Tapsel, Sumatera Utara AKP Alexander Piliang sampai saat ini yang bersangkutan (Hah) masih kami periksa. “Memang ada kami amankan,” katanya. Alexsander menyebutkan pengungkapan money politic ini berawal saat Tim Satgas Money Politic Polres Tapsel yang dipimpinnya dan Kasat Intel Polres Tapsel, AKP Eldi Koswara melakukan patroli untuk mengamankan Pemilu 2019.

Tim Satgas Antipolitik Uang Polres Tapsel melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Wakil Bupati Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, Hah. Dia ditangkap diduga terkait kasus serangan fajar bersama 13 orang lainnya.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja membenarkan OTT tersebut. Tak hanya Hah, 13 orang lainnya yang diringkus merupakan tim sukses dari sang istri wakil bupati Mas. “Benar, yang bersangkutan telah diamankan Polres Tapsel dalam OTT yang dilakukan Tim Satgas Money Politics Polres Tapanuli Selatan, Senin (15/4) sekira pukul 02 pagi tadi,” ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, Senin (15/4).

Tatan menjelaskan OTT itu diduga berkaitan dengan politik uang. Hah bersama 13 orang tim sukses diduga membagi-bagikan uang untuk memenangkan istrinya Mas, calon anggota DPRD Kabupaten Paluta dari Partai Gerindra, Nomor Urut 3 Dapil I.

Dari penangkapan itu, turut diamankan barang bukti sejumlah uang pecahan Rp50.000 dan Rp100.000. Sementara ke-14 orang yang diduga terlibat yakni Wakil Bupati Paluta Hah serta 13 orang lainnya yang merupakan tim sukses.

Petugas kepolisian mengamati barang bukti amplop dan daftar nama-nama. Foto istimewa

Mereka, antara lain, SH, MH, FIM dan Ri. Kemudian FH, Ali AS, Sutan KS, KAS,HH, MRH, HS, IH dan MS. “Tim melakukan penangkapan dugaan money politics yang bertujuan untuk memenangkan salah satu caleg DPRD Kabupaten Paluta,” jelasnya.

Dia menjelaskan OTT ini berawal saat Tim Satgas Money Politic Polres Tapsel mendapat informasi dari masyarakat terkait adanya bagi-bagi uang untuk memenangkan Mas  di Pemilihan Calon Anggota DPRD Kabupaten Paluta tahun 2019.

“Kemudian polisi melakukan penyelidikan. Ternyata empat orang yakni SH, MH, FIM dan Ri diduga menerima amplop berisi uang. Keempat orang ini diketahui baru keluar dari rumah Mas dengan mengendarai mobil Toyota Kijang warna kuning dengan nomor polisi BK 1462 YG,” jelasnya.

Dari pemeriksaan petugas terhadap empat orang ini, lanjutnya, mereka mendapat amplop dan uang dari seseorang bernama FH di dalam salah satu rumah di Jalan SM Raja Lingkungan I Partimbakoan Kelurahan Pasar Gunung Tua Kecamatan Padang Bolak.

Rumah ini merupakan kediaman pasangan suami istri Mas dan suaminya Hah. “Tim Satgas Money Politic Polres Tapsel, langsung melakukan pengembangan ke alamat dimaksud. Dari kediaman Wakil Bupati Paluta ini, petugas mengamankan sebanyak 10 orang laki-laki dewasa, yang sedang mengisi uang ke dalam amplop,” terangnya.

Petugas juga mengamankan amplop sebanyak 118 buah dengan isi dalam amplop uang bervariasi besaran antara Rp150.000, Rp200.000 hingga Rp300.000, serta satu buah kartu nama Caleg DPRD Kabupaten Paluta Partai Gerindra nomor urut 3 Dapil I atas nama Mas.

Sementara dari dalam rumah Wakil Bupati Paluta tersebut petugas juga mengamankan, laptop 2 unit. Printer 1 buah, stempel berlogo Partai Gerindra 1 buah, stempel berlogo Prabowo Sandi sebanyak1 buah, kalender caleg atas nama Mas 11 buah.

“Kemudian slip transaksi perbankan (penarikan dana) BRI dan Bank Sumut, 1 eksemplar bukti dukungan terhadap Caleg, 1 buah kalkulator, stok amplop kosong yang telah tersedia, HP, hekter, pulpen, kwitansi dan ratusan Foto Copy KTP pendukung,” paparnya. Saat ini, lanjutnya, status ke 14 orang itu masih terperiksa. Polisi akan melimpahkan kasus itu ke Bawaslu Kabupaten Paluta.