Setya Novanto. Foto Istimewa

Jakarta-Intainews.com:Setya Novanto mengaku, dirinya telah menjual pesawat miliknya untuk membayar hukuman uang pengganti senilai USD 7,3 juta atau senilai Rp 96,4 miliar. Jumlah itu mengikuti kurs saat putusan pada 24 April 2018 (1 USD = Rp 13.900).

Pesawat pribadi itu, kata terpidana KTP-el, dijual kepada Riza Chalid. Namun demikian, hingga kini ia belum menerima uang hasil penjualannya. “Saya berusaha untuk menjual aset-aset dan juga beberapa diantaranya dengan Riza Chalid yang sudah ada penjualan mengenai pesawat,” tutur Setnof.

Kendati sampai sekarang, ungkapnya, belum dibayar, padahal uang itu untuk cicilan. Setnov mengatakan itu kepada wartawan usai menjadi saksi dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa 19 Februari 2019.

Selain menjual pesawat, Novanto menyebut masih mencari uang untuk membayar uang pengganti tersebut, termasuk menagih utang kepada beberapa orang. Walaupun penagihan utang itu belum membuahkan hasil yang maksimal.

Terkait pidana tambahan itu, Setnov sudah mengembalikan uang Rp 5 miliar ketika masih dalam proses persidangan. KPK juga sudah menyita uang Rp 1,1 miliar, Rp 862 juta, dan USD 100 ribu dari Setnov terkait pengembalian uang pengganti itu.

KPK juga telah menerima pembayaran uang pengganti dari penjualan aset Novanto di Jatiwaringin, Bekasi senilai Rp 6,4 miliar. Tak hanya itu, Setnov juga berencana menjual rumahnya di daerah Cipete, Jakarta Selatan.

Diketahui Setnov kini mendekam di Lapas Sukamiskin, Bandung, setelah divonis 15 tahun penjara. Mantan Ketua Umum Golkar itu terbukti mengintervensi proses penganggaran dan pengadaan proyek KTP-el Tahun Anggaran 2011-2013.

Hakim juga menilai Setya Novanto menerima keuntungan sebesar USD 7,3 juta dan menguntungkan pihak lain serta korporasi. Ia pun dihukum harus membayar uang pengganti sebesar yang diterimanya yakni USD 7,3 juta. Apabila uang pengganti itu tak dibayar, maka harta benda Setnov akan disita dan dilelang. Namun bila tidak mencukupi, maka akan diganti pidana penjara selama 2 tahun. *kpn