Ilustrasi.Istimewa

Yogyakarta-Intainews.com:Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisial HS, yang merupakan pelaku pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) berinisial AN, harus menerima kenyataan belum bisa lulus dari kampus.

Diketahui kasus itu terungkap saat majalah internal kampus yang dikelola mahasiswa, Balairung, mempublikasikan artikel berjudul ‘Nalar Pincang UGM Atas Kasus Perkosaan’. Dalam artikel itu AN menceritakan kasus pelecehan yang dialaminya saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku pertengahan tahun 2017.

Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani, mengatakan, meski kewajiban administrasi akademik HS sudah selesai, namun ia belum bisa lulus dari kampus akibat kasus ini. HS pun sampai sekarang belum menjalani yudisium atau tahap penentuan status kelulusan mahasiswa secara resmi.

“Pelaku sampai saat ini kewajiban administrasi akademiknya sudah selesai tetapi belum lulus, karena masih harus menjalani pendampingan psikologi (konseling),” ujar Iva saat ditemui di kantornya, Selasa 6 November 2018.

Setelah adanya artikel tersebut, pihak kampus sadar korban masih membutuhkan keadilan. UGM, kata Iva, siap untuk mengadvokasi AN dengan memproses HS secara hukum agar tercipta keadilan.

“Kita kemarin tidak membawa persoalan itu ke ranah hukum karena dari diskusi tim itu ya ada korban dan tim investigasi pada waktu itu lebih menekankan pada bahwa penyitas ini mendapatkan rasa keadilan saja,” ucapnya.

Tak hanya memproses HS secara hukum, pihak kampus juga bisa mengeluarkan keputusan untuk mengeluarkan Drop Out (DO) yang bersangkutan dari kampus. Sebab UGM, kata dia, selama ini memiliki kebijakan yang ketat soal pelecehan seksual.

Tidak hanya pelecehan seksual, bahkan pelecehan secara akademik (academic harassment) juga telah diatur oleh Rektor sehingga dosen tidak bisa bersikap sewenang-wenang kepada mahasiswa. * Kpn