Yus Iman Harefa, SH

Gunungsitoli-Intainews.com:Kejaksaan Negeri Gunungsitoli hentikan pengembangan kasus korupsi dana sekretariat DPRD Kota Gunungsitoli tahun 2012 yang diduga merugikan negara sebesar Rp 1,5 milliar.

Penghentian dilakukan karena sesuai hasil audit badan pemeriksa keuangan (BPK) yang bertanggungjawab dalam kasus tersebut hanya mantan bendahara setwan Kota Gunungsitoli FH yang telah menjalani hukuman 4,5 tahun penjara.

Hal tersebut diungkapkan Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Gunungsitoli Yus Iman Harefa, SH di kantor Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Sumatera Utara, Senin 24 September 2018.

“Karena sesuai audit BPK hanya mantan bendahara yang bertanggungjawab, kita hentikan sementara pengembangan kasusnya, dan jika ada bukti baru kasus kita teruskan,” terangnya.

Yus Iman tidak lupa memberitahu, sebelumnya ada dua tersangka yang telah ditetapkan dalam kasus tersebut. Namun yang telah dihukum atau sudah menjalani hukuman hanya mantan bendahara Setwan FH.

Sedangkan tersangka lainnya mantan setwan SZ belum ditahan atau belum menjalani hukuman hingga saat ini. Karena hasil audit BPK hanya mantan bendahara yang bertanggungjawab, status tersangka SZ ditangguhkan dan bukan di sp3.

Sebagaimana ditegaskan Yus Iman Harefa, jika kelak ada bukti baru atau petunjuk dari BPK, status SZ dikembalikan dan langsung diproses. “Kita sudah kerap meminta BPK mengaudit ulang, namun tim auditor BPK Bonita Karmila tetap bertahan jika yang bertanggungjawab hanya bendahara,” bebernya.

Mengenai kerugian negara sebesar Rp 1,5 milliar, menurut Yus Iman Harefa hanya sebesar kurang lebih Rp 100 juta yang telah dikembalikan kepada negara. Sebelumnya Susanti Waruwu alias Ina Putri istri dari FH mengaku sangat kecewa dengan kinerja Kejaksaan Negeri Gunungsitoli. Menurut dia Kejari Gunungsitoli dalam menegakkan hukum terkesan pilih kasih dan tidak tegas.
Uang ke Sejumlah Oknum

Susanti membeberkan, dalam kasus yang menjerat suaminya masih banyak pihak yang terlibat dan ikut menikmati uang dugaan korupsi tersebut. Disebutkannya antalalain adalah sejumlah oknum pegawai setwan Kota Gunungsitoli dan oknum anggota DPRD Kota Gunungsitoli periode 2009-2014.

“Dalam kasus ini hanya suami saya yang ditumbalkan, padahal uang tersebut ikut dinikmati sejumlah oknum anggota dprd dan oknum pegawai setwan Kota Gunungsitoli,” ungkapnya.

Menurut dia, bukti-bukti pemberian uang kepada oknum-oknum tersebut berupa kwitansi telah diserahkan suaminya kepada penyidik Kejari Gunungsitoli. “Saya tidak akan tinggal diam, dan saya akan terus mencari keadilan buat suami saya, dan akan melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Tinggi dan Kejagung,” tegasnya.

Untuk diketahui, korupsi dana setwan Kota Gunungsitoli tahun 2012 menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 1,5 milliar. Dari fotocopy kwitansi yang diberikan Susanti Waruwu, diketahui jika uang tersebut diserahkan kepada sejumlah oknum anggota DPRD Kota Gunungsitoli periode 2009-2014 dan oknum pegawai dalam bentuk pinjaman sementara. *Inc-12