Indonesia memiliki peluang memanfaatkan fintech, terutama dalam sektor pembiayaan online, marketplace lenders.

Tanah Karo-Intainews.com:Fintech merupakan fenomena pergeseran perilaku konsumen dari layanan jasa keuangan tradisional atau konvensional menuju layanan jasa keuangan berbasis teknologi berbasis online,” ungkap Achmad Darimy.

Hal itu disebutkan Asisten Direktur Divisi Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Achmad Darimy pada pelatihan wartawan Kota Medan di Taman Simalem Resort Kabupaten Karo, Sumatera Utara [Sumut], Kamis 26 September 2019 [foto].

Dengan materi, sistem pembayaran keuangan dalam pertumbuhan Fintech di Indonesia sangat pesat, Achmad Darimy mengatakan Fintech adalah sebutan yang di singkat dari kata ‘financial’ dan ‘technology’, di mana artinya adalah sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan. Indonesia memiliki kesempatan dan peluang besar memanfaatkan fenomena ini.

Fintech di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, pada tahun 2017 18,6 M dan pada tahun 2018, mengalami pertumbuhan menjadi 22,3 M. Berarti pencapaian pertumbuhan sebesar 24,6%,” papar Achmad.

Ada Kekosongan Dana US$54 Miliar

Bank Indonesia baru merespon sejak 2017. Namun demikian ‘financial’ dan ‘technology tetap harus diwaspadai. Layanan jasa keuangan pembayaran digital karena ada resiko finansial dan operasional.

Layanan digital Fintech peluangnya untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia sangat besar, terutama bagi bisnis start-up dan pelaku usaha mikro dan kecil yang tidak feasible bagi bank. Fintech ini menjadi jembatan untuk meningkatkan akses keuangan ke masyarakat. Fintech ini memiliki manfaat melalui teknologi, konsumen dan bisnis.

Achmad juga memaparkan berdasarkan Data Oliver Wyman, sebuah perusahaan konsultan manajemen menyebutkan, Indonesia memiliki peluang memanfaatkan fintech, terutama dalam sektor penyedia pembiayaan online [marketplace lenders].
“Menurut data mereka, ada kekosongan dana sebesar US$54 miliar bagi usaha mikro, kecil dan menengah [UMKM] pada 2020”, katanya. *Inc-03