Haraga cabe merah masih tinggi dan anomali. Foto Istimewa

Jakarta-Intainews.com:Anomali harga cabe masik terus berlanjut di daerah di Indonesia. Di Medan Sumatera Utara harga cabe disebut meroket. Di beberapa pasar di Medan masih bertahan di antara harga Rp 60 sampai Rp 80.000.

Informasi dihimpun Intainews.com, Kamis 25 Juli 2019, harga cabe merah masih tinggi. Sebagaima dinformasikan [baca Intainews.com] harga cabe masih terus anomali (tidak menentu], meroket di Kabupaten Mandailing Natal [Madina]. Para petani beralih [dadakan] mulai menanam cabe mengangtisipasi harga yang masih tetap mahal.

Di Bandung, Jawa Barat harga cabe juga anomali. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Mohammad Arifin Soedjayana, kepada wartawan seperti dilansir tempo.co, harga cabe merah di Bandung, Rabu [24/7] tembus Rp 70.000 per kilogram.

Ilustrasi. Istimewa

Sementara harga normalnya berkisar Rp 30.000 ribu per kilogram. “Hampir di semua provinsi, yang sentra cabai atau tidak, sama,” kata dia. Lonjakan harga kali ini, kata Arifin, ada hubungannya dengan pasokan cabai yang seret. Pihaknya sudah meminta petani besar untuk segera menambah pasokan cabe.

Pantauan harga cabe oleh Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Jawa Barat di sejumlah pasar tradisional di Bandung, harga cabai merah keriting tercatat Rp 70.000, cabe merah biasa Rp 90.000 per kilogram, cabe rawit hijau Rp 90.000per kilogram, cabe rawit merah Rp 80.000 per kilogram.

Di Bekasi, cabe rawit merah Rp 80.000 hingga Rp 90,000 perkilogramnya. Kenaikan yang signifikan semenjak dua pekan terakhir ini berimbas terhadap para pedagang nasi Bekasi. Bersiasat mengatasi harga cabe yang meroket tersebut dengan mengurangi pembelian. Dengan membeli setengah kilogram saja, namun harganya tetap Rp 45.000.

Cabe rawit ikut meroket. Foto Istimewa

Supply and demand

Belanja cabe itu untuk kebutuhan bumbu dan sambal di warungnya, yang tidak bisa dielakkan. “Biasanya bikin sewajan sambal, tapi sekarang paling banyak hanya semangkok,” kata Eneng pedagang nasi di Bekasi.

Bagi pedagang nasi Padang menyiasati mahalnya cabai dengan mengurangi porsi sambal. Selama konsumen tidak meminta tambahan, penjual mendiamkan saja. “Karena ada juga konsumen diberi sambal, tidak dimakan habis,” kata pedagang nasi Padang.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti menduga melambungnya harga cabe di beberapa titik di Indonesia disebabkan oleh kurangnya suplai. Kendati, hingga kini Kementerian Perdagangan masih belum mengantongi data produksi cabe di dalam negeri.

“Kalau saya berpikir harga itu pengaruh dari supply and demand, sehingga bisa jadi begitu [suplai kurang]” ujar Tjahya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Namun, ia mengatakan masih akan melihat data pasti dari produksi cabai tersebut. *inc-22-inc-04-tpc