Sri Mulyani. Foto Istimewa

Jakarta-Intainews.com:Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah telah mereda berkat adanya sinergitas pemerintah dan institusi moneter. “Ini berkat pemerintah menjalin sinergi yang kuat dengan institusi moneter,” kata dia dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Kamis 4 Juli 2019.

Buktinya, lanjut Sri, rupiah berhasil ke luar dari tekanan yang sempat membuat mata uang Bangsa Indonesia itu terdepresiasi hingga Rp15.200 per dolar AS. Saat ini nilai tukar rupiah tercatat stabil pada kisaran Rp14.247 per dolar, atau terdepresiasi sekitar 6,9 persen jika dibandingkan dengan rata-rata nilai tukar rupiah 2017 sebesar Rp13.384 per dolar.

“Tingkat depresiasi tersebut, masih lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di negara-negara berkembang seperti Turki, Argentina dan Brasil,” tegasnya. Sri Mulyani juga menyampaikan, rata-rata suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan pada 2018 adalah sebesar 5,0 persen atau lebih baik dari target APBN sebesar 5,2 persen.

“Lelang SPN 3 bulan sepanjang 201 masih mendapatkan minat yang besar dari investor, walaupun banyak aksi jual oleh investor asing,” jelas dia lagi. Aksi penjualan tersebut, disebabkan adanya indikasi kenaikan suku bunga acuan The Fed, pasar tenaga kerja yang solid dan kenaikan inflasi AS yang lebih cepat. *tsc