Sri Mulyani. Foto Istimewa

Jakarta-Intainews.com:Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati angkat bicara terkait mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Menurut Sri Mulyani, Senin 8 Oktober 2018, penguatan dolar AS itu salah satunya dipengaruhi oleh imbal hasil (yield) obligasi AS (T-bond) tenor 10 tahun yang mencapai lebih dari 3,4 persen.

“Jadi kami melihat dinamika ekonomi AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali. Kalau dulu, batas psikologis untuk T-bond 10 tahun adalah 3 persen,” ungkap Sri Mulyani saat ditemui di Hotel Melia Nusa Dua, Bali.

Berdasarkan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan pada Senin pagi, mata uang rupiah bergerak turun tujuh poin menjadi Rp15.190 per dolar AS. Sebelumnya, nilai tukar rupiah ada pada posisi Rp15.183 per dolar AS.

Sri Mulyani tidak menampik apabila tren dolar AS yang terus menguat ini merupakan indikator dari fenomena “the new normal” yang kerap ia sampaikan. Kendati demikian, Sri Mulyani belum bisa memastikan posisi normal dari nilai tukar rupiah mengingat Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) juga masih akan terus meningkatkan suku bunganya sampai tahun depan.

“Selama ini yang menjadi indikator global, kita lihat keduanya bergerak. Suku bunga The Fed naik, T-bond juga naik. Ini semuanya makin mengonfirmasi bahwa akselerasi perekonomian Amerika Serikat semakin tinggi,” jelas Sri Mulyani.

Menkeu mengatakan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan terus melakukan penyesuaian guna menciptakan kondisi yang lebih stabil dan memiliki daya tahan baik. Meski begitu, ia tidak menampik apabila penyesuaian dalam bentuk nilai tukar bersifat fleksibel.

Oleh karena itu, Sri Mulyani menyatakan para pengambil kebijakan berhati-hati dari sisi kecepatan pergerakan maupun pengambilan keputusan. “Fleksibilitas dari nilai tukar tidak bisa dihindarkan karena dia bagian dari respons terhadap perubahan pada lingkungan global yang masih akan terus berjalan,” ungkap Menkeu.*Tid