Menteri perdagangn dan Buwas. Foto Istimewa

Jakarta-Intainews.com:Polemik soal impor beras masih terus saja berlangsung. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) tetap bersikukuh menolak kebijakan impor beras.

Dia bilang, Perum Bulog tidak perlu mengimpor beras hingga Juni 2019. Data yang dipakai stok cadangan beras pemerintah (CBP), Buwas berani menjamin stok beras masih aman. Hingga saat ini, lanjut dia, stok CBP Bulog berkisar 2,4 juta ton.

Nantinya serapan Bulog per harinya diperkirakan bisa mencapai 4.000 – 5.000 ton per hari. “Maka stok akhir tahun ini itu jumlahnya hampir 3 juta ton. Untuk menghadapi 2019 dari Januari sampai Juni pun sudah kita hitung,” jelas dia.

Namun Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan, pemerintah harus mengimpor beras. Jika tidak, katanya, Indonesia terancam defisit beras. Pada akhir tahun lalu, stok beras di Tanah Air turun tajam.

Melalu Rapat Koordinasi

Stok beras pemerintah di gudang Bulog bahkan sempat minus. Saat ini, pemerintah memiliki kewajiban untuk menyediakan beras rastra bagi masyarakat kurang mampu.

“Ada dua pilihan. Kalau impor pasti di-bully, kalau tidak impor siapa pun pemerintahnya akan jatuh dengan chaos. Itu konsekuensi politik yang ada,” ujar Enggar, Kamis 14 September 2018. Ia menekankan Indonesia hampir selalu mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan domestik. Apalagi, saat ini, lahan pertanian di tanah air terus tergerus.

“Hanya di zaman orba (orde baru), itu pun satu periode tertentu, kita tidak impor beras. Di luar itu, kita selalu impor beras,” tegas dia. Enggar pun menekankan setiap keputusan impor tak dilakukan sendiri, melainkan melalu rapat koordinasi di tingkat Kementerian Koordinator Perekonomian.

Rapat juga dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Pertanian, Dirut Bulog, dan Deputi Menteri BUMN. Enggar sendiri sepanjang tahun ini telah mengeluarkan izin impor 2 juta ton beras. Izin impor diberikan secara bertahap, yakni 500 ribu ton sebanyak dua kali serta 1 juta ton. *Cnc-Tsc