No. 64

“Tidak. Ini tidak manusiawi dan tidak adil kalau Tini harus meninggalkan suaminya yang baik dan menjadi perempuan muda Ustadz Daham. Tidak, aku penentang utama. Ustadz Daham yang harus introspeksi,..”

Intainews.com:PIDA keluar dari pintu belakang dan menghubungi Haji Sardan. Pida mendengarkan keluh kesah dari Haji Sardan soal kondisi Ustadz Daham yang semakian parah. Lies dan Pida sama-sama menengarkan cerita Haji Sardan tanpa jawaban apapun. Setelah handphone dimatikan, Lies berbisik ke telinga Pida agar jangan diberitahukan kepada Tini dan jangan diberitahu nomor HP terbaru milik Tini.

Menurut Lies cerita tentang Ustadz Daham ini bahaya sekali kalau sampai tahu Tini dan suaminya. Keadaan sakit Ustadz Daham semakin payah, dan dokter tidak tahu apa sakitnya. Namun dari ke hari keadannya terus saja meprihatinkan. Diceritakan Zuliana istri Ustadz yang hamil tua, makan katanya terasa kerak. Minum terasa dedak. Shalat pun sudah tidak, kecuali melalui mata dan komat-kamit. Tengah malam masih terus mengigau menyebut nama Tini dan meminta dipertemukan mereka sebelum ajal menyemput. Sakit Ustadz muncul setelah Haji Sardan pamit untuk ke Jakarta, diundang Tini, menghadiri pernikahannya dengan Dokter Muslim.

“Sejak itulah Abang tak mau bicara, tidak mau makan. Kecuali beribadah, berzikir terus menerus. Semua aktivitas soal penulisan dan penerbitan buku berhenti. Pandangannya kosong. Sering sekali menyebut Tini,” begitu cerita istrinya sambil menangis dan mengelus perutnya yang membesar dan kadang-kadang terasa sakit seperti aba-aba anaknya mereka segera lahir.

Mendengar cerita Ana, Haji Sardan dan istrinya hanya diam seribu bahasa. Dimata suami istri ini Ustadz Daham, sudah kehilangan ganteng dan gagahnya. Tubuhnya semakin mengecil, kurus kering tidak berdaging. Bibirnya pecah-pecah, matanya cekung ke dalam dan di sekitarnya membiru, pandangan samar dan suram. Ustadz Daham seperti mayat dan tengkorak yang bernafas. Tidak sedikit jamaahnya yang datang ingin bertemu ditolak untuk bertemu.

Hanya Haji Sardan yang diterimanya. Tak pernah lagi mengelus perutnya dan mencium baya yang ada di kandungan. Begitu keluh kesah Ana ditemani deraian air mata, dan jiwanya seperti sudah putus asa. Namun berulang-ulang bibir Ana menyebutkan, dia tidak ingin suaminya mendahuluinya. Bahkan ia menegaskan sambil menangis, lebih baik mati berdua, mati bersama dirinya, suaminya dan anaknya.

“Sebelum itu terjadi, yang rasanya tidak lama lagi, tolonglah Pak Haji dan Bu Haji sampaikan dengan Tini semua ini, terimalah Ustadz Dengan baik. Saya pun ikhlas kalau Ustadz Daham menikahi Tini, saya rela dimadu asalkan ayah anakku ini dapat melihat bapaknya,…” Ana berkata sambil menangis sesegukan. Tak sepotong kata pun yang bisa diucapkan, selain Bu haji ikut menangis terisak-isak.

Sungguh rumit memutuskan kejadian ini, pastilah Dokter Muslim mempertahankan Tini istri yang sangat dikasihinya. Dan Tini apakah akan meninggalkan suami yang menyintainya, menerima Ustadz Daham demi anak dan Zuliana istrinya. Untuk sementara ini, bagi Lies dan Pida sangat sulit untuk menyampaikan cerita lelaki yang sudah menolak cintanya Tini kini sedang sekarat.

“Tidak. Ini tidak manusiawi dan tidak adil kalau Tini harus meninggalkan suaminya yang baik dan menjadi perempuan muda Ustadz Daham. Tidak, aku penentang utama. Ustadz Daham yang harus introspeksi,..” kata Pida kepada Lies. *Bersambung