No. 63

“Jaga baik-baik istrimu yang hebat ini dokter,…”  ucap Dr Gunawan. “Pastilah, saya berjanji hanya inilah yang pertama dan terakhir sampai kami menutup mata,….”

Intainews.com:SUASANA di rumah Dokter Muslim penuh dengan tawa dan riang gembira. Sahabat sesama dokter di Puskesmas, mitra kerja termasuk perawat dan staf administrasi mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin yang sedang menunggu pesta perkawinan.

Tidak habis-habisnya pujian kepada Dokter Muslim yang sudah ditunjukkan Tuhan pasangan hidup yang seperti sempurna, tidak terdapat cacat dan cela. Dokter Gunawan yang kebetulan teman akrab sejak di kampus kedokteran menawarkan diri menjadi Ketua Panitia Perkawinan sahabatnya Dokter Muslim.

“Dua bulan, bukan waktu yang lama untuk menyiapkan pesta perkawinan orang baik gagah bersama pasangan nan cantik jelita.” Begitu kata Dr Gunawan yang akan menyiapkan pesta perkawinan di hotel mewah kota ini. Dokter Muslim saling berpandangan istrinya, kira-kira darimana dana yang besar untuk resepsi perkawinan meriah, besar dan berkelas.

“Tidak usahlah saya menjadi Ketua Pesta Perkawinan, kalau untuk urusan saudara saya yang paling baik ini tidak bisa diatasi,…” kata Dr Gunawan yang segera disambut dengan tepuk tangan. Selanjutnya Dokter Muslim berdiri bersama istrinya yang cantik. Sambil memegang pinggang Tini, begitu juga istrinya memeluk pinggang suaminya  mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, sambil mengangguk.

“Untuk itu kepada Dokter Muslim, supaya mendaftarkan siapa-siapa yang mau diundang. Nuansa adat yang mau diekspresikan dalam dekorasi penampilan plaminan, supaya segera diberikan. Sanak famili termasuk Bunda yang datang dari luar kota ini jangan lupa didaftarkan, supaya kita siapkan tempat menginapnya yang terbaik dan nyaman.”

Dalam diamnya, Tini masih juga berfikir darimana semua biaya perkawinan yang sepertinya besar dan mewah ini. Begitu juga pikiran Lies dan Pida di belakang yang mendengar dialog para dokter itu. Di balik semua itu Lies dan Pida bangga dengan sahabatnya Tini, sekalipun datang dari luar kota namun bisa menyesuaikan diri, masuk ke dalam suasana kaum intelek. Tini tidak membuat malu, Tini mampu menjaga wibawa sebagai istri seorang dokter yang dihargai teman-temannya.

“Hebat Tini, dia memang bertuah,…” kata Pida sambil mengacungkan jempol kepada Lies.

“Tuhan memberi kepadanya yang terbaik setelah dia jalani penderitaan yang luar biasa. Ditinggal ayah dan ibunya sebelum tamat SMA, seterusnya menghadapi kehidupan sendiri sebagai anak tunggal. Saat ada lelaki yang diharapkannya dapat melindunginya, Ustadz Daham tamatan Kairo. Ternyata memilih wanita lain yang menjadi pilihan Bundanya karena alasan pegawai negeri,…” cerita Lies yang dipotong Pida.

“Sudahlah Lies, Tini sendiri sekarang sudah move on,…” ucap Pida bersamaan dengan Tini menemui mereka berdua.

“Pid, apa masih ada mietiawnya? Dokter-dokter itu minta dibawakan di box sterofoam ,” Tini melihat ke lemari ternyata ada box sterofoam .

“Berapa orang Tin,…”

“Buatlah sepuluh,…” tukas Tini sambil menuju ke depan dan mengatakan ada untuk sepuluh box [kotak].

Alhamdulillah,….” kata mereka hampir serentak. Dan bersama dengan Tini, Pida dan Lies mempersiapkan permintaan teman-teman suaminya. Begitu selesai dan lengkap acar timun, kerupuk udang, Tini membawanya ke depan, masing-masing mengambil satu kotak.

“Saya mau bilang sama istri supaya masak mietiaw seperti ini,” tutur Dr Gunawan sambil menyalami Dokter Muslim sahabat yang banyak membantunya saat kuliah. Menyalami Tini dan mengatakan,….

“Jaga baik-baik istrimu yang hebat ini dokter,…”  ucap Dr Gunawan.

“Pastilah, saya berjanji hanya inilah yang pertama dan terakhir sampai kami menutup mata,….”. Di saat yang sama ada pesan singkat dari H Sardan kepada Pida dan Lies. Penting, katanya. *Bersambung