No.62

“Yang paling sering dia menyebut Tini,…katanya dia sangat berdosa dan besalah dengan perempuan itu,…..

Intainews.com:KALAU sudah berkumpul tiga sekawan ini, seberat apapun pekerjaan dan persoalan segera tuntas. Begitu kata Dokter Muslim memuji kecekatan Lies dan Pida membantu istrinya menyiapkan mietiaw permintannya sesuai keingininan teman-temannya di tempat kerjanya Puskesmas.

Sekarang makanan sebentar lagi selesai. Dokter melihat jam tangannya. Setengah jam lagi mereka datang, pas mietiaw masak, dan panas-panas dilahap. Pida dengan semangat memainkan alat dapur mengacau mietiaw di wajan. Lies menyiapkan piring, minuman sapu tangan. Tini meracik bawang dan memotong mentimun untuk acar.

“Sudah Tin, tinggalkan itu biar kuteruskan. Bersiaplah kamu, berdandan dan menerima tamu. Lihat suamimu sudah gagah dan ganteng dia,…”

“Ah, kalau Abang itu dari lahir pun sudah ganteng. Kalau tidak mana aku mau,.. sama dia.”

“Ialah kau cantik pantaslah mendapatkan dia,” kata Lies sambil memotong ketimun.

“Sudah, mandi kau,…” ucap Pida, kali ini barulah bersiap. Masuk kamar mandi. Dokter di teras rumah bercerita dengan Udin yang akan mengatur mobil dan kendaraan, jangan sampai mengganggu kenyamanan tetangga. Waktu terus berjalan. Pida meminta Lies menyicipi mietiaw yang dimasknya jangan sampai keasinan atau kurang garam. Lies merasa.

“Sudah, enak Pid. Tapi tanya juga Tini untuk klarifikasi,” ucap Pida. Tidak lama Tini keluar dari kamar mandi hanya membalut badannya yang kuning langsat dengan handuk.

“Ini rasa dulu Tin,…” pinta Pida. Tini menyicipi.

“Enak Pid. Sudahlah, masukkan ke mangkok kaca yang besar itu. Jangan lupa bawang gorengnya,…”

“Iya nyonya…beres, lekas berdandan,” perintah Pida. Lies ikut nimbrung,…

“Si Tini itu tidak usah berdandan dan pakai make-up sudah sangat cantik,…” tukas Lies.

“Kita bertiga ini Lies tidak usah dipoles memang dari sononya kita sudah cantik jelita,…” kata Pida sambil bergaya. Lalu Lies melempar Pida dengan bawang. Hop! Pas mengenai dadanya.

“Kimbek! Sakit tau,…”

“Hei, lihat dulu, sudah oke?” Tiba-tiba Tini muncul sesudah berdandan.

“Waduh, busana muslim yang kamu pakai sepadan dengan baju koko yang dipakai Dokter. Persis seperti kalian menikah, kayak pasangan Palestina….”
Terdengar di depan ucapan asalamuaalaikum, disambut Dokter Muslim dan terdengar suaranya memanggil istrinya. Tini dengan percaya diri senyum ramah menerima dokter-dokter Puskesmas yang datang lenih dulu.

Dari tujuh kerabat kerja suaminya, memandangi Tini sambil menyalami seperti tidak berkedip. Satu persatu baik dokter perempuan maupun lelaki mereka berbisik dan berkata pada kepada suaminya. Taulah Tini apa yang dikatakan mereka, memuji kecantikan dirinya… alhamdulillah kata hati Tini yang sadar kalau dirinya cantik setelah menikah dengan Dokter Muslim.

Saat yang sama, sore ini Haji Sardan bersama Bu haji, istrinya ke rumah Utadz Daham yang kabar diterimanya sakitnya semakin kuat. Ustadz Daham sudah dibawa pulang, karena di rumah sakit tidak ada perubuhan. Tubuhnya kurus kering, matanya cekung memandang layu ke wajah Haji Sardan seakan ada yang ingin dikatakannya. Tetapi tersangkut di leher.

“Lihatlah Pak Haji apa gerangan sakitnya suami Ana,…janganlah anak yang dikandungan Ana ini sampai tidak melihat abinya, atau ayahnya,….”

“Ah,…tak baik berperasangka buruk begitu Ana,…”

“Yang paling sering dia menyebut Tini,…katanya dia sangat berdosa dan besalah dengan Tini,…..* Bersambung