No.61

Dokter dan Tini menyiapkan makan siang untuk di makan dan segera menyiapkan membuat mie.

Intainews.com:DI PASAR di mana Dokter Muslim biasa belanja, kaget dan terpesona. Kaget melihat Dokter yang biasa tidak pernah berteman dengan wanita, kini akrab dengan gadis cantik yang menemaninya belanja. Apalagi wanita itu sangat dekat dengan Dokter, berpelukan pinggang dan Dokter juga memeluk pinggang Tini. Kelihatannya Dokter seperti sedang memamerkan pasangannya. Seorang wanita pedagang sayur yang diam-diam menyukai Dokter memberanikan diri bertanya, siapa gerangan wanita yang dipeluknya itu, kalau boleh dia bertanya.

Dokter menjawab jujur, apa adanya. Lalu pedagang lain menyalami Tini. Pedagang sayur itu memaklumi, selama ini hanya hatinya yang menginginkan dicintai lelaki ganteng dan gagah itu. Diapun sadar, manalah mungkin Dokter itu mau menerima janda pedagang sayur. Walaupun sebelumnya, hampir semua pedagang di pasar itu merasa hanya pedagang sayur yang paling cantik, besar kemungkinan bisa menjatuhkan hati Dokter Muslim. Ternyata wanita yang hadir di sisi Dokter, waduh! Wanita cantik seperti tidak ada bandingnya. Ramah, baik hati dan suka senyum, tak puas setiap mata lelaki memandangnya.

Dokter mengatakan, mereka sudah menikah. Dan dua bulan ke depan pesta perkawinan.

“Bang undanglah kami,…”

“Ya insya Allah,….”

Sementara Tini sangat senang, ternyata suaminya ramah dan baik. Dengan pedagang di pasar pun dia baik. Sepeninggal mereka, orang-orang di pasar itu masih menggunjingkan kecantikan istri Dokter yang sangat cantik jelita seperti putri turun dari kayangan. Sepadan dengan Dokter yng ganteng.

“Kalau begitu cantiknya, jangankan jandanya, mayatnya pun aku mau,” begitu kata pedagang ikan teri Rusli, yang baru ditinggal mati istrinya dua bulan lalu.

“Huiiii…..iii mana laku Bang Rusli sama dia, tukang sayur itu saja,….cocok …kan…Abang duda,…dia janda muda, sama-sama tak punya anak kalian,…apalagi…”

Pedagang sayur itu tunduk-tunduk malu, pura-pura menyusun sayurnya. Sesungguhnya dia sudah menyimpan rasa dengan Bang Rusli itu. Cuma Bang Ruslinya yang belum bereaksi. Teman-teman sesama pedagang bersoak dan bertepuk setuju kalau janda dan duda ini bersatu. Jadi tak usahlah membayangkan dapat cinta Dokter Muslim lagi.

Sementara Dokter dalam perjalanan pulang mendapat telepon dari teman-temannya sesama dokter dan perawat mau datang ke rumah sore nanti, mau lihat pengantin wanitanya. Begitu kata mereka. Dokter menyetujui, silakan datang.

“Datanglah, tapi tidak ada apa-apa di rumah. Kami baru sampai tadi malam.”

“Tidak apa, kami yang penting mau ketemu. Kalian menikah diam-diam,….” kata Dokter gigi di Puskesmas.

“Bagaimana dik,…kawan-kawan kerja mau datang,…. “

“Ya,…kita terima saja Bang. Cuma makanannya apa,…minumnya apa….”

“Masakan yang bisa cepat apa? Mietiaw,…nasi goreng…? Biar mereka tahu masakan Tini,…”

“Ih, tidak usah dibilang-bilang biarkan saja, nanti tidak enak malu…”

“Abang jamin pasti mereka kagum memakan masakan Tini,…”

“Kalau begitu kita panggil si Pida si Lies, biar dia bisa bantu.”

“Bagus,…bagus,….”

Lalu disepakati membuat mietiaw saja. Minumannya minuman kaleng. Tiba di rumah segera bersiap. Udin menyiapkan kursi-kursi dan bersih-bersih. Dokter dan Tini menyiapkan makan siang untuk di makan dan segera menyiapkan membuat mie. Tidak lama, Pida dan Lies datang. * Bersambung