No.60

“Terserah istriku, yakin Abang…apapun yang Tini masak pasti enaaaaaak,…” kata suaminya dan Tini mencubit perut suaminya. Mereka pun makan berdua.

Intainews.com:HARI INI Senin, malam tadi pukul 22.15 WIB Dokter Muslim dan istrinya tiba di rumah besar yang sebelumnya ditempatinya sendirian. Hanya ada pembantu menjaga dan besih-bersih rumah Udin yang sama dengan dirinya kala itu, lajang. Tetapi kini begitu sampai dia bersama Tini langsung ke rumah ini. Jadi tidak ke rumah Lies di mana selama ini Tini kos. Tini masuk ke rumah suaminya yang kata Dokter Muslim sudah menjadi rumahnya juga.

Haji Sardan pulang ke kampung halamannya bersama Wak Toton dinaikkan ke taksi Bandara sampai ke depan pintu rumah. Ongkos taksi di bayar Dokter Muslim dan uang di amplop masing-masing Rp 3 juta diminta suaminya Tini yang menyerahkan. Begitu juga kepada Mama Lies dan Pida. Dalam perjalanan pulang, masing-masing menceritakan, sulit mendapat orang baik seperti suami Tini dan Tininya pun baik.

Pagi di rumah Dokter, Tini sudah bangun pagi-pagi. Memasak air panas membuat susu dan masak nasi goreng. Suaminya pun sudah bangun pagi-pagi dan menyirami bunga-bunga. Lalu mereka berdua bersih-bersih dan duduk di de pan meja makan.

“Cepat sekali ya Bang, seperti mimpi,…” kata Tini sambil mengambilkan nasi goreng yang dimasak Tini. Ini nasi goreng masakan Tini yang pertama sekali. Dokter langsung mencicipinya,….

“Aduh,….”

“Kenapa Bang,…tidak enak,…asin….bilanglah,..,” Tini mendesak apa penilaian suaminya. Dokter menyuruh istrinya mendekat supaya dibisikkan. Tini mengikut apa permintaan suaminya didorong ingin tahu apa tanggapan suaminya,….oh, kiranya suaminya menarik kepala istrinya dan mencium wajah Tini dengan gemas…

“Enak sekali nasi gorengnya Tin, seperti yang direstoran. Bukan main semakin sempurna istriku ini,…” kata suaminya memuji masakan Tini sambil memangku istrinya.

“Sekarang kita sarapan dulu,….baru mencuci dan masak untuk makan siang. Apa menunya untuk makan siang kita Bang,…”

“Terserah istriku, yakin Abang…apapun yang Tini masak pasti enaaaaaak,…” kata suaminya dan Tini mencubit perut suaminya. Mereka pun makan berdua.

Hari ini adalah hari terakhir Dokter habis cuti. Besok sudah mulai masuk bekerja di Puskesmas. Usai makan Tini minta diantarkan belanja ke pasar. O,….Dokter bersedia,… Selama ini dia sendiri ke pasar, kini ditemani istri tercinta. Suaminya menyerahkan uang untuk belanja dan kebutuhan lainnya sepuluh juta rupiah.

“Ini untuk belanja dapur dan kebutuhan sehari-hari. Kalau ada yang diperlukan lain-lain, bilanglah,…”

“Ah, inipun sudah kebanyakan Bang,…”

“Tidaklah,…sudah pegang saja.”
Di dalam mobil menuju ke pasar, suaminya mengatakan.

“Tadi abang bilang sama Udin supaya mencarikan pembantu untuk masak, mencuci dan bersih-bersih.”

“Ah Tini bisa mengerjakannya Bang,…”

“Tapi Tini mau menyelesaikan kuliah, repot nanti. Biarlah ada yang membantu ya Tin,..” kata suaminya sambil mengelus paha kiri Tini di dalam mobil.

“Oh ya bang,…besok Tin mau ambil buku-buku dan baju-baju di tempat Lies.”

“Besok sore saja, abang pulang kerja, biar Abang bantu….”
“Biar saja Bang,Tin dibantu Lies…”
“Kenapa…? Ada yang aneh?…”
“Tidak,….” *Bersambung