No.59

Menjelang fajar, saat cahaya matahari menyapa Yogyakarta bersama burung-burung mencericit. Para pedagang di Malioboro berkemas, untuk pulang, membersihkan lapak dagangannya…

Intainews.com:SEHARIAN mengitari lokasi wisata di Yogyakarta, menyenangkan. Terutama bagi rombongan yang belum pernah ke Jawa Tengah. Dokter Muslim sudah berulang kali ke tempat wisata di Yogyakarta, sehingga dia bisa bertindak seperti guide. Dokter menjelaskan saat di Parang Tritis, Borobudur, Candi Prambanan dan selesai di Malioboro makan dengan lesehan.

Tini dan semuanya sangat gembira. Dari melancong dan berdarwisata itu terjalin keakraban dan persaudaraan yang kuat. Sehingga bukan hanya Tini yang rapat dengan Dokter, Tetapi semua yang ada di dalam rombongan itu merasa dekat sekali dengan suami Tini. Begitu juga Dokter Muslim merasa dekat dihatinya tidak hanya istrinya Tini, tetapi kepada semuanya Dokter Muslim akrab.

Selesai makan bersama di Malioboro yang dihibur dengan pengamen yang suaranya bagus-bagus dan main musiknya harmonis, melantunkan lagu-lagu Batak, Lagu Minang dan lagu pop internasional kesukaan Dokter. Rupanya pengamen itu anak-anak Medan yang kuliah di Jakarta. Lies akrab dengan Hendra yang mahasiswa jurusan musik di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Sedangkan Pida semakin dekat dengan Ujang, yang ternyata Dokter senang kalau keponakannya itu sampai ke tangga plaminan, karena selama ini Ujang dua kali gagal dalam bercinta.

Tini juga setuju kalau Pida bisa berlanjut ke perkawinan. Tinggal Lies yang baru penjajakan dengan Hendra. Keduanya saling bertukar dan mencatat nomor telepon. Menjelang larut malam kembali ke hotel, besok pagi segera kembali ke Jakarta selanjutnya lusa Dokter Muslim sudah sampai di Medan, bertepatan dengan hari terakhir cutinya, untuk berikutnya kembali bekerja di Puskesmas.

Tini sangat senang dengan perjalanan ini, sekaligus batinnya sangat bahagia betapa suaminya bisa menerima sahabat dan familinya dengan baik. Dan malam ini suami istri ini berpelukan erat, ketika Dokter membisikkan ke telinga kekasihnya, malam ini harus istirahat. Tini mengganguk dan mengecup suaminya. Di kamar hotel lainnya yang ditempati rombongan terasa sepi tanpa aktivitas. Bahkan di kamar Haji Sardan telivisi menyala, sementara keduanya terlelap.

Sama dengan di kamar Wak Toton dan istrinya, tidur pulas ditonton televisi yang terus aktif dengan siarannya. Lies, Pida dan Mama Lies yang tertib. Semua lampu mati kecuali lampu tidur yang menyala temaram. Televisi mati, bertiga mereka tidur pulas. Pida tidur dengan mimpinya bersama Ujang di puncak bukit. Lies tidur tanpa mimpi.

Menjelang fajar, saat cahaya matahari menyapa Yogyakarta bersama burung-burung mencericit. Para pedagang di Malioboro berkemas, untuk pulang, membersihkan lapak dagangannya karena akan dilintasi kehidupan denyut pengendara yang ramai pagi-pagi. Ada juga yang terbangun bersamaan trahim di masjid-masjid Yogyakarta melantunkan ayat-ayat kitab suci Alquran mengandung makna kehidupan di bumi dan di langit.

Rombongan terbangun hampir serentak dimulai Mama Lies yang akan menghadap Tuhan dengan shalat subuh. Istri Wak Toton membangunkan suaminya, Bu Haji membangunkan Haji Sardan. Pukul delapan pagi semua rombongan bersama barang bawaannya sudan berada di restoran hotel untuk sarapan, tak terkecuali Tini dan suaminya. Sungguh rombongan yang solid dan kompak, kata hati Dokter Muslim. * Bersambung