No.55

Lies tak mau kalah, diapun ikut ke kamar mandi. Di sinilah kesempatan Pida bertanya soal keperawanan Tini.

Intainews.com:TINI menyadari dirinya jadi berjarak dengan Lies, Pida, Uwak dan Haji Sardan. Mudah-mudahan mereka semua mengerti dan paham, sebagai istri dia harus melayani dan dekat dengan Dokter Muslim di tengah bulan madu ini. Tini merasa Dokter seperti anak kecil yang manja, seperti tidak mau lepas sedetikpun dari dirinya. pakai celana pun mesti dipakaikan.

Dan sesungguhnya batinnya juga begitu, bahkan ingin dirinya seperti anak kucing yang suka dibelai-belai. Dan rasanya dia ingin terus-terusan dicium dan dipeluk suaminya. Tetapi manalah mungkin dilakukannya, di sisi kanan, muka dan belakang ada penumpang lain.

Tini membiarkan dan menikmati saat telapak tangannya terus dalam gengaman suaminya. Di bisikkannya ke telinga suaminya.

“Lama ya Bang pesawat ini terbangnya. Apakah pesawat ini berjalan…” kata Tini yang ingin sekali lekas sampai, masuk hotel dan menyalurkan hasratnya yang menggelora sejak pesawat melambung ke udara.

“Sabarlah, seperempat jam lagi sudah mendarat. Kalau pesawat ini tidak jalan,..kita sudah bahaya sayang,…Kenapa mau lekas sampai…?”

“Mau bobok….ngantuk.” Begitu ungkap Tini yang dimengerti maksudnya. Dokter tersenyum,…menutupi apa yang diketahuinya.

“Tanggung, sebentar lagi sudah sampai. Kenapa tadi tidak tidur di pangkuan Abang,…”

“Malu dilihat orang,….”

“Kenapa malu, kita kan suami istri…”

Tiba-tiba terdengar suara pramugari menyebutkan pesawat segera mendarat. Tini merasa senang sekali, berarti sebentar lagi dia sudah bisa tidur bersama suaminya. Begitu juga perasaan Dokter Muslim, ingin saja rasanya ia melompat keluar bersama Tini lalu membawanya ke ranjang untuk melepaskan hasyrat yang menggelora menggoda jiwanya.

Dokter bisa meraba dan paham apa yang diinginkan Tini. Mulanya malam tadi dia takut, tetapi sekarang dia menginginkan. Tini pun dapat merasakan keinginan suaminya.

Di teminal, Pida dan Lies terus saja memperhatikan Tini dan suaminya seperti lepat dengan daun. Pida yang heboh, ingin mencari kesempatan dia bisa menanyakan kepada Tini soal taruhannya dengan Lies. Tiba-tiba Tini mendekati Lies bertanya di mana toilet. Pida lekas menjawab.

“Aku tau, yuk aku mau ke kamar mandi juga,” kata Pida. Lies tak mau kalah, diapun ikut ke kamar mandi. Di sinilah kesempatan Pida bertanya soal keperawanan Tini, * Bersambung