No.53

“Naa…Pid kalau pulang dari Yogyakarta aku nggak bisa jamin. Pastilah sudah,….” kata Lies yang langsung dipotong oleh Pida.

Intainews.com:SEMUANYA sudah berada di lobi hotel, mereka menunggu Tin dan Dokter Muslim turun selanjutnya langsung ke Bandara Cengkareng, mereka sepakat sarapan di Bandara supaya tidak ketinggalan pesawat. Pida berbisik ke telinga Lies.

“Bertaruh kita. Apakah Tini sudah hilang kegadisannya?”

“Menurutmu?” tanya Lies kepada Pida.

“Belum. Si Tini kalau soal begituan penakut.”

“Ah, kalau itu nomal saja. Setiap pasangan yang sudah menikah ingin cepat-cepat menikmati bulan madu di malam pengantin,” ungkap Lies.

“Oke kita bertaruh Rp 500.000,” ujar Pida dengan yakin. Lies menerima tantangan itu. Tak lama Dokter dan Tini datang. Keduanya senyum-senyum. Dokter kelihatan biasa saja, tak bisa ditebak. Tetapi, melihat si Tini walaupun di tutupi jilbab, ternyata di bagian belakang kepalanya basah. Menurut Pida, artinya, si Tini basah kepalanya. Dia mandi berjunup pagi tadi.

“Ah belum bisa dijadikan bukti Pida, kamu dan aku sama-sama basah rambut. Kita tidak berbulan madu,….”

Lies mempertahankan pendapatnya. Dia tidak mau kehilangan uangnya begitu saja. Pida ngotot, dia yakin menang dan mengambil uang dari Lies Rp 500.000.- Sampai di Bandara Pida dan Lies masih beradu argumen soal si Tini yang sudah kehilangan keperawanannya.

“Hei,…kau lihat jalan si Tini seperti ada yang sakit di bawah perutnya,…”

“Ah perasaanmu saja Pid. Kulihat biasa saja,…” kata Lies membuat Pida terpojok dan sedang berpikir keras apa lagi yang bisa dijadikan bukti sehingga dia menang taruhan dan mengambil uang Lies. Sampai saat mereka sarapan pagi, mereka semakin seru seperti berkelahi. Haji Sardan melihat keduanya seperti bertengkar. Haji Sardan mendekati Lies dan Pida, lalu bertanya ada apa gerangan. Mendengar pertanyaan Pak Haji Sardan itu keduanya tertawa. Dan mengatakan tidak apa-apa.

“Ah,…. ada saja kalian. Bertukar fikiran seperti berkelahi,…” kata Haji Sardan. Selesai sarapan mereka menaiki pesawat terbang yang akan membawa mereka ke Yogyakarta. Berlibur di sana dan bermalam dua hari.

“Naa…Pid kalau pulang dari Yogyakarta aku nggak bisa jamin. Pastilah sudah,….” kata Lies yang langsung dipotong oleh Pida.

“Kita bertaruh sekarang, besok lain lagi ceritanya,” tandas Pida pula.

“ Oke pembuktiannya biar aku yang bertanya langsung dengan si Tini,…”

“Eh! Jangan Lies, malu kita…., kamu jangan lihat si Tini seperti kemarin, sekarang dia ada suaminya.”

“Ah biar kutanya, supaya sah siapa yang menang dan siapa yang kalah,….”
* Bersambung