No.51

Keduanya bagai merpati memadu kasih dan melayang bebas mengudara saling berkejaran di antara awan-awan.

Intainews.com:MALAM jadi nyata bagi pengantin baru yang  menikah tadi pagi. Tidak perlulah harus menunggu dua bulan lagi untuk bisa tidur bersama setelah resepsi perkawinan. Soal setelah usai resepsi perkawinan, nantiilah urusannya, kata hati Dokter. Selama ini, sejak dia datang untuk memeriksa sakit Tini, sudah ada gerakan di hatinya, gadis ini persis seperti yang ada dalam bayangannya, perempuan yang bakal di terima ibu menjadi menantunya. Tini akan melahirkan anak-anakku  dan memeliharanya dengan baik.

Tini merasa rikuh dan risi juga ada lelaki yang tidur di sebelahnya dan ini yang pertama kali. Selama ini ketika dirinya membayangkan menikah dengan Ustadz Daham pernah terlintas kalau dirinya akan menyerahkan apa yang dingini dari tubuh yang dimilikinya diserahkan kepada suami setelah menikah. Cuma itu, ada percintaan dalam kalbu, sekarang ini adalah nyata. Dokter sudah mulai merayu dan mengelus tubuhnya, sambil bercerita tentang masa depan setelah menikah.

Tini membiarkan, pasrah dan tidak elok kalau dia ikut memeluk dan mencium membalas gelora suaminya, sekalipun dirinya sudah bergelora, dia bersikap menunggu karena memang belum ada pengalaman sebelumnya.Tiba-tiba terdengar suara Tini setengah berbisik.

“Takut bang,….”

“Apa yang ditakutkan,…semuanya akan baik-baik saja,…”

“Takut saja,….”

“Kalau takut, yang sudah,…kita tidur saja,…nanti ada masanya tidak takut, karena kalau sudah menikah apa yang menjadi ketakutan Tini adalah kewajiban. Untuk abang wajib menafkahi lahir dan batin istrinya. Tini juga punya kewajiban melayani suaminya, lahir batin.”

Tini tersenyum, semua itu sudah diketahuinya. Hanya dia benar-benar ingin mencoba, apakah suaminya memaksa dirinya? Ternyata tidak, Dokter Muslim tidak marah, malah menghibur dan mengelus dirinya agar segera tidur. Selanjutnya Tini memberanikan diri merapatkan wajahnya ke bantal suaminya, sehingga wajah mereka rapat sekali. Tini mencium wajah suaminya. Suasana itu menjadi kemesraan saat keduanya saling berpagut. Keduanya bagai merpati memadu kasih dan melayang bebas mengudara saling berkejaran di antara awan-awan. * Bersambung