No.50

Gelora cinta pasangan ini seperti memuncak. Namun Tini tetap malu-malu, berbeda dengan Dokter Muslim, yang segera membopong Tini…

Intainews.com:LELAKI yang jatuh cinta pertamanya adalah Tini, dan gadis Tini menjadi buta sepenuh hati mencintai lelaki itu. Lalu lelaki yang bernama Ustadz Daham membelot, menyimpang ke gadis lain, Ana atas paksaan Bundanya. Kini istrinya sedang hamil besar tinggal menghitung hari untuk melahirkan. Kini Ustadz Daham sudah tidak sadarkan diri saat dokter datang.

Dokter segera merujuk, suami Ana ke rumahsakit. Sementara Tini di Jakarta setelah sah pagi tadi menikah dengan Dokter Muslim, merasa bagai perahu menemukan pelabuhan, tempat hatinya tertambat. Tini duduk di sisi suaminya seperti tak ada sela jarak antara bahunya dan bahu suaminya. Ada Lies, Pida, mama Lies, Wak Toton dan istri, Haji Sardan dan istri memperhatikan itu. Selama ini Tini sudah menahan gelora asmara sejak Ustadz Daham menikahi Ana.

Di antara itu suasana mereka terbangun menjadi riang gembira, bersama canda yang diciptakan Pida, sehingga membuat mereka terus saja penuh gelak tawa. Saat itu pula Tini menyampaikan rencana ke Yogyakarta sebelum pulang.

“Jadi kita ke Yogya bang?” Tini bertanya pada suaminya, sambil telapak tangannya singgah mengelus lutut suaminya.

“Ya, terserah. Saya setuju saja,…” kata suami Tini sambil tersenyum. Ya… semua setuju. Mumpung punya kesematan kenapa tidak, kata Pida. Lalu Dokter menghubungi Ujang untuk pesan tiket pesawat berangkat pagi ke Yogyakarta.

“Jadi, dihitung-hitung ini perjalanan bulan madu raja dan ratu, dan kita-kita adalah dayang-dayangnya,” ucap Pida dan Tini tersenyum lalu merebahkan badannya ke pangkuan Dokter Muslim. Hal itu disengaja Tini untuk mencandai Pida, namun bagi Dokter Muslim apa yang dilakukan istrinya membangunkan gelora batinnya.

Sesungguhnya, Tini juga merasa bergelora, sejak setengah jam usai prosesi pernikahan. Ingin rasanya ia memeluk dan menciumi suaminya yang ganteng dan gagah itu. Malam dirasakan pengantin baru ini sangat lamban datangnya, agar mereka bisa segera dapat menikmati lezatnya madu bercinta.

Di tengah suasana itu, handphone Haji Sardan kembali berdering, diangkat, ah…Ustadz Daham lagi. Haji Sardan pamit ke luar untuk menerima telepon. Tini kembali merasa Ustadz Daham yang menghubungi Haji Sardan. Ana mengabarkan Ustadz Daham masuk UGD rumahsakit. Haji Sardan berusaha menutupi hal itu, hanya menyebutkan ada pesanan buku. Haji Sardan berusaha memperlihatkan wajahnya yang riang, kendati hatinya sedih dan sangat cemas dengan keadaan Ustadz Daham.

Malam yang dinanti suami istri ini datang juga. Malam semakin larut, sepasang pengantin yang baru diresmikan pagi tadi, kelihatan malu-malu kucing, padahal sesungguhnya sudah saling ingin melaksanakan tidur bersama dengan cinta. Dokter Muslim masih pura-pura menonton televisi. Tini datang dan duduk di dekat suaminya.

Dokter dapat mencium rambut Tini. Wanita muda itu membiarkan apa saja yang dilakukan suaminya. Karena dirinya sudah menjadi miliknya. Dan Tini semakin ingin segera melompat ke ranjang untuk tidur, namun sebagai wanita dia tidak ceroboh dan mendahului suaminya. Tini tetap malu-malu, berbeda dengan Dokter Muslim yang segera membopong Tini ke atas ranjang… *Bersambung