No.49

Selama Ana pergi, Ustadz Daham terus menggelapar dan tangan kirinya memegang kuat dada kirinya. Dada kirinya sakit sekali, aduh!

Intainews.com:HARI ini adalah hari yang dimimpikan setiap wanita, memasuki gerbang perkawinan, lalu bermesraan dan melahirkan generasi. Bagi Lies dan Pida pernikahan Tini adalah kebahagiaan luarbiasa, saat dirinya mendampingi lelaki baik hatinya, ganteng, memiliki status sial yang tinggi dan kaya.

“Ini pernikahan yang sangat sempura,” bisik Lies ke telinga Pida yang seperti tersugesti memandangi Dokter Muslim yang mengucapkan pernikahan cukup sekali saja.

Tini mengucapkan alhamdulillah, dengan ini dia pun sah menjadi istri Dokter Muslim. Acara begitu cepat, ketika usai menyalani dan sujud di kaki Bundanya Dokter, Tini dan suaminya memeluk sanak famili, memeluk istri Wak Toton, menangis di bahu Bu Haji, menyalami Haji Sardan, memeluk kuat sekali Lies dan Pida sahabatnya. Tini masih terus menangis, suaminya menunggu dengan sabar agar dia bisa menyalami Lies dan Pida.

Seperti biasanya, mereka pun makan berhidang. Tini kelihatan manja sekali dengan suaminya. Begitu pula Dokter Muslim, rasanya tidak ingin renggang sejengkal pun dari istrinya Tini. Telepon Haji Sardan bunyi, Tini melihat Pak Haji Sardan meninggalkan ruangan. Hatinya merasa Ustadz Daham menghubungi Haji Sardan. Tini berusaha membuang jauh-jauh dari hatinya Ustadz Daham agar tidak menjadi dosa.

Dirinya sudah diberkahi dan dituntun Tuhan menjadi istri Dokter Muslim. Perjalanan yang lalu, biarlah berlalu cukup menjadi kenangan dan merupakan proses perjalanan hidupnya untuk dipertemukan dengan lelaki yang mecintainya, dan hatinya harus berusaha sekuat kemampuannya untuk mencintai suaminya.

Benar adanya nomor telepon Ustadz Daham, tetapi yang menghubungi Haji Sardan adalah istrinya.

“Halo Pak, Bapak kapan pulang, Ustadz Daham diopname di Rumahsakit. Dia terus menceracau, tak bisa dimengerti apa katanya,” begitu Ana melaporkan keadaan Ustadz.

“Ya Na,… kami rembukkan dengan Tini dan suaminya, karena katanya pulang bersama mereka,…” ujar Haji Sardan tidak memberitahu kalau ada acara jalan-jalan ke Yogyakarta dulu, baru pulang.

“Oh,… sudah selesai acara pernikahan,…” tanya Ana.

“Sudah, sekarang lagi makan,” jelas Haji Sardan yang tidak diketahuinya kalau cerita Haji Sardan didengar oleh Ustadz yang tiba-tiba tensinya terasa tinggi. Ana menutup hubungan teleponnya dengan Haji Sardan, lalu Ana setengah berlari memanggil dokter.

Selama Ana pergi, Ustadz Daham terus menggelapar dan tangan kirinya memegang kuat dada kirinya. Dada kirinya sakit sekali, aduh! *Bersambung