No.46

“Apapun jadilah Lies daripada aku jomblo terus. Dapat orang Jakarta bagus, biar aku ambil S2 di sini.”

Intainews.com: SORE di Jakarta, udara di luar hotel cukup cerah, secerah wajah-wajah rombongan yang besok menyaksikan Tini menikah dengan lelaki yang sekejab menjadi kekasihnya. Ketika dua hati sudah bertemu dan bersatu segera saja laksanakan perintah Allah Swt. Wajah-wajah cerah dan aura gembira tersirat di wajah Haji Sardan dan istrinya, Uwak Toton dan istrinya, Mamanya Lies, Pida dan Lies setelah masing-masing menerima amplop berisi uang Rp 3 juta, sekadar untuk jajan di Jakarta, begitu kata Lies menyampaikan pesan dari Tin dan calon suaminya.

“Uang jalan yang diberikan Dokter di Danau Toba, masih utuh ya Lies. Ini sudah datang lagi, oh…semoga manis rezeki Tini dan suaminya,…” kata Pida mencium amplop tebal dan mengantonginya.

“Uang jalan yang kemarin di kirim Tini ke rekeningku juga masih ada,…” ujar Lies pula.

“Itu uang jalan ya Lies, ada hak aku di situ.”

“Ya, untuk makan pulangnya kita semua di bandara Pid.” Terdengar bel kamar hotel mereka berbunyi. Mama masuk dan mengatakan sudah ditunggu di lobi hotel. Ya, mereka bertiga bergegas turun, untuk keliling Ibukota Republik Indonesia.

Tak lama kemudian semua dari rombongan sudah berada dalam mobil yang disetir Ujang. Ketika ujang bertanya mau ke mana, hampir serentak menyebut ke Monas. OK Ujang mengangguk maklum, yang baginya Monas tidak menjadi tempat yang harus dikunjungi.

“Bang, adik takut naik ke Monas. Abang sajalah,…” kata Bu Haji yang diiyakan pula oleh istri Wak Toton dan Mama Lies. Tiga ibu-ibu itu mengaku merinding mendengar nak ke puncak, takut.

“Malam tidak bisa naik ke Monas, cuma sampai sore saja,” Ujang menjelaskan.

“Sebelum pulang nanti aku musti naik ko Monas, mau selfie-selfie aku,…” ucap Pida.

“Tu Monas,…” tiba-tiba Lies menunjuk ke arah tugu api semangat yang menjulang tinggi. Semua memperhatikan dengan kagum, dan tak lama sudah masuk ke pintu gerbang Monas. Sore ini banyak anak-anak bermain layang-layang, orang-orang berjalan berpasangan, duduk bercandaria menikmati udara sore yang kemudian lampu-lampu Monas mulai dihidupkan, saat senja menjelang malam.

“Mbak, kita mau makan apa. Supaya kita cari tempatnya.”

“Yang ada di dekat sini makan apa Bang,…”

“ Ada nasi goreng kambing, ada sop buntut dan makanan lain di Taman Ismail Marzuki.”

“Lies, Mama mau nasi kebuli itu.”

“Saya juga mau,…nasi goreng kambing,” kata istri Haji Sardan. Semua setuju, hanya Pida yang kurang suka dan kalah suara.

“Jangan takut Mbak Pida, nanti di sana ada makanan yang lain, sate,..nasi goreng telor ceplok dan lain-lain.” Ucapan Ujang disetujui Pida. Lies melihat, Pida jadi dekat dengan Ujang. Lalu dia berbisik.

“Pid, cari tau sudah ada istrinya apa belum, jangan main serobot aja.”

“Tau aku Lies. Tapi orangnya keren juga, ganteng,…bersih dan ramah…”

“Ya, supaya jadi keponakannya si Tini kau. Dia itu keponakannya Dokter Muslim,” sebut Lies.

“Apapun jadilah Lies daripada aku jomblo terus. Dapat orang Jakarta bagus, biar aku ambil S2 di sini.”

“Tamatkan S1 mu dulu.”

“Sama kita, tinggal sedikit lagi tamat. Si Tini juga. Eh, si Tini bagaimana ya,….lanjut apa tidak kuliahnya,….sebentar lagi hamil pula dikipas Dokter itu.” *Bersambung.