No.45

Nanti sore Ujang keponakan Dokter Muslim datang menjemput dan membawa kalian jalan-jalan. Sebaiknya makan di luar saja, terserah di mana yang kalian rasa enak.

Intainews.com:USTADZ tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Ustadz Daham mengatakan, Ana sebenarnya tidak keberatan, walaupun wajahnya sedih sekali.

“Itulah yang saya minta sampaikan kepada Haji Sardan supaya Tini bersabar, ada saatnya nanti bisa bertemu. Tetapi semuanya sudah telat dan menjadi hampa, tidak ada lagi harapan. Tini besok sudah disunting dan menjadi istri orang lain…” Kemudian beberapa saat sepi lagi. Tidak ada suara dari Ustadz. Lebih lama kosong dibanding yang sebelumnya.

“Hallo,….halo Ustadz,….” Haji Sardan berulang-ulang memanggil. Ternyata hubungan sudah putus. Bersamaan pula acara makan telah selesai, istrinya mendekat.

“Kita istirahat Bang, sore nanti kita jalan-jalan. Besok acara pernikahan, kita dijemput pagi-pagi,…” kata istrinya. Tini yang tidak jauh dari dirinya, bersama calon suaminya mendekati Haji Sardan. Tini memberitahu yan sama seperti yang dikatakan Bu Haji. Haji Sardan mengangguk dan tersenyum. Namun dari pandangan mata gadis jelita ini Haji Sardan tahu, Tini ingin memastikan apakah yang menghubungi Haji Sardan adalah Ustadz? Tak terjawab, Tini bersama suaminya menaiki mobil dan meninggalkan hotel.

“Ustadz yang menelpon Abang?” Bu Haji bertanya sambil berjalan ke hotel menuju kamar yang sudah disediakan, kunci kamar sudah di tangannya.

“Ustadz Daham menanyakan keadaan kita dan juga Tini. Abang bilang semua baik-baik saja,” tukas Haji Sardan.

“Iyalah Bang, jangan ceritakan yang macam-macam lagi. Kasihan Tini, biarlah dia jalani kehidupannya yang nampaknya membuat hidupnya lebih baik.”

“Setuju Abang Dik,…inilah jalan terbaik untuk hidup si Tini,” begitu kata Haji Sardan sambil masuk ke dalam kamar hotel yang luas dan asri. Begitu melihat ke jendela, betapa luasnya Jakarta, dan mobil kelihatan kecil-kecil.”

“Di tingkat berapa kita ini Bang?”

“Tadi waktu kita naik lif di tingkat limabelas.”

“Adik hampir tidak percaya, tinggi sekali,…” kata Bu Haji dan merebahkan badannya di sisi suaminya. Beberapa saat keduanya tertidur pulas. Semua tertidur, Lies, Pida, Uwak Toton dan istrinya, Ibu Lies juga terlelap siang ini. Hanya Lies tiba-tiba terbangun HP-nya berdering, dari Tini. Ada apa Tin? Sahabatnya Tini, menanyakan apakah ada yang kurang, apakah ada yang tidak berkenan. Lies mengatakan semuanya sudah cukup baik.

Tini lalu mengatakan, nanti sore Ujang keponakan Dokter Muslim datang menjemput dan membawa kalian jalan-jalan. Sebaiknya makan di luar saja, terserah di mana yang kalian rasa enak. Bilang sama Ujang mau makan apa. Nanti ada titipan dari Tini untuk uang jajan.

“Tak usah Tin. Uang yang kemarin masih ada, kamu masih butuh biaya,…” ujar Lies.

“Sudah ambil saja, mumpung ada. Manfaatkanlah, Lies yang menyerahkan kepada semuanya, bilang dari Tini dan Dokter,” jelas Tini.

“Terimakasih Tin. Bilang sama calon suamimu,”

“Iya,…iya…” Lalu Lies kembali membaringkan tubuhnya di sisi Mama. *Bersambung