No.44

Intainews.com:TINI berkata bahwa dirinya tidak ada yang aneh untuk menjawab bisik-bisik Pida dan Lies, sambil menolehkan wajahnya kepada Dokter Muslim hingga dekat sekali, serta tangan kanannya diletakkan di paha calon suaminya itu.

“Wadhuh Lies, sudah memanggil Abang si Tini itu,…” Pida bercanda membuat Bu Haji dan Haji Sardan tersenyum menahan tawa.

“Pida melihat ayang cantik sekali,… suruh nambah lagi makannya,…” ucap Dokter Muslim sengaja bercanda membuat Pida semakin sewot.

“Hop! Sudah manggil cayang Lies,…” ujar Pida sambil mencubit paha Lies kuat sekali. Sehingga Lies kesakitan membuat Dokter dan Tini tahu, karena Lies sakit dibuktikan wajahnya sampai meringis. Lalu memukul tangan Pida. Adegan itu kelihat lucu dan semua yang ada di meja makan itu tertawa. Tini pun ikut tertawa, setelah beberapa hari ini seperti dibebani ketegangan. Menjelang hari pernikahan, tiba-tiba Tini ingat Ustadz Daham.

Wajah Ustadz Daham seperti membayangi wajahnya malam-malam selama di Jakarta. Malam tadi, Ustadz seakan berenang di air yang sangat deras menuju ke tempatnya berdiri bersama Dokter Muslim. Tetapi suasana pengalaman mimpi itu tertutup di tengah tawa dan canda bersama Pida dan rombongan.

Terdengar pula HP Haji Sardan berbunyi, ternyata dari Ustadz Daham. Haji Sardan menerimanya sambil bergerak keluar dari restoran itu.

Melihat itu, Tini lekas menduga, Ustaz Daham menguhubungi Haji Sardan. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan, Tini merapatkan badannya ke lengan suaminya. Lebih mengeksploitasi kemesraan.

“Ya Ustadz, alaikum salam. Baru sampai di Jakarta. Lagi di hotel,…”

“Sudah ketemu Tini,…”

“Sudah Ustadz, dia menyebut terimakasih kirim salamnya. Dan dia akan baik-baik saja,…”

“O,…jadi sudah disampaikan salam dari saya,…..?”

“Ya sudah, Ustadz….”

Haji Sardan berbohong, untuk menghibur hati Ustadz Daham yang terdengar dari suaranya sedang haru biru setelah mendengar wanita yang paling pertama membuat dirinya merasa jatuh cinta, akan segera menikah. Seterusnya,…tiba-tiba Ustadz Daham menceritakan apa yang dialaminya sejak mendengar Tini segera menikah kepada Haji Sardan. Seperti ada yang hilang. Sekalipun ada Ana, Ustadz mengaku seperti kehilangan lengan kiri, jika Ana bagian dari lengan kanannya. Terdengar suara Ustadz Daham menjadi lemah, dan tanpa diduga Haji Sardan, Ustadz Daham sesegukan lalu beberapa saat hilang,…..

“Halo Ustadz,….”

“Ya. Astagfirullah,…. Bagaimana keadaan Tini?”

“Sikapnya seperti biasa, ramah, akrab dan sangat pengertian. Wajahnya berseri-seri dan dia nampak cantik sekali,….” Haji Sardan jujur, namun perkataan itu seperti menikam batinnya lebih dalam.

“Ternyata saya terlambat menanggapi, semestinya Ana dan Tini lebih pantas berada di sisi saya. Waktu itu Tini tidak keberatan,…”

“Bagaimana Ana, istri Ustadz,..?” *Bersambung