No.43

“Kimbek Lies, cantik kali si Tini,…bersih putih seperti putri raja,” kata Pida sambil menyuap nasi ke mulutnya.

Intainews.com:USAI mengambil barang-barang yang di bagasi, dengan mengikuti Lies mereka keluar dari terminal. Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda mengacungkan namanya yang ditulis di kertas dan nama Pida. Lies langsung tersenyum dan mengajak semua mendekat. Di Bandara Cengkareng sangat ramai. Pemuda itu menyalami semua satu persatu, lalu meminta agar berkumpul dan duduk sebentar di tempat yang dintujukkan agar diririnya mengambil mobil.

Tidak lama, mobil sudah datang dan membawa mereka ke luar dari Bandara Cengkareng. Masing-masing melihat ke luar jendela memperhatikan setiap yang mereka lewati. Oh, betapa besar dan ramainya Jakarta. Jalan-jalan kelihatan bersih. Tidak banyak yang dibicarakan, kecuali masing-masing berkata dalam hati berbisik-bisik saja. Sebagaimana yang diperintahkan, mereka dibawa ke hotel. Tini dan calon suaminya sudah menunggu.

Satu jam perjalanan dari Bandara membuat mereka puas menyaksikan pemandangan di kota Jakarta, jalan layang yang bertingkat-tingkat dan mobil seperti mobil mainan berjalan di bawah mereka. Kata orang Jakarta macet, tetapi mereka merasakan tidak ada kemacetan. Keponakan Dokter Muslim mengatakan sambil menyetir, jam seperti ini tidak macet. Ini sudah diatur jam berangkat sehingga tiba di ibukota tidak dalam keadaan macet.

Kini mobil yang membawa rombongan Lies masuk ke hotel. Begitu berhenti di depan Lobi, sudah kelihatan Tini dan Dokter Muslim. Lies langsung turun, bagaikan tupai meloncat menerkam Tini. Keduanya berpelukan. Menyusul Pida. Seterusnya Tini tunduk mencium tangan Uwak Toton, Abang kandung Almarhum ayahnya. Memeluk istri Uwak. Dokter Muslim juga tunduk mencium tangan Wak Toton dan Istrinya.

Tindakan sama dilakukan Tini terhadap ibunya Lies, Bu Haji dan Pak Haji Sardan. Betapa terharu bercampur gembira. Mereka tidak menyangka apa yang besok akan dialami Kartini, yaitu melangsungkan pernikahan dengan Dokter Muslim. Selanjutnya mereka serahkan semua tas dan koper kepada Ujang, keponakannya Dokter Muslim. Dia mengatur kamar hotel yang mereka tempati dan rombongan bersama Tini serta calon suaminya ke restoran hotel. Mereka pun makan siang bersama di hotel.

Istri Uwak Toton berbisik kepada suaminya, dia mengagumi calon suami Tini yang sangat gagah, tinggi dan ganteng. Cocok dengan Tini keponakannya yang cantik jelita. Bu Haji mencubit belakang telapak tangan Haji Sardan.

“Wih, ganteng kali Bang calonnya si Tini,…”

“Imbang ya, sama Tini yang cantik. Lihatlah mereka berdiri, hampir sama tingginya, tinggal dua centi saja dari calon suaminya.”

Lies dan Pida yang baru tiga hari tidak ketemu Tini, mengagumi Tini yang tampak cantik sekali.

“Kimbek Lies, cantik kali si Tini,…bersih putih seperti putri raja,” kata Pida sambil menyuap nasi ke mulutnya.

“Diam kau Pid. Namanya mau jadi pengantin orang besar orang besar, ya masuk salon lah,” tukas Lies, dan mereka berdua diperhatikan Tini sambil senyum. Tini tahu sahabatnya menggunjingkan dirinya, entah apa.

“Jangan bisik-bisik Pid, tidak ada yang aneh. Ini Tini yang kemarin, sahabat yang sudah seperti saudara. Iya kan Bang….,” ucap Tini sambil menoleh ke calon suaminya. *Bersambung