No.42

Mereka pun mulai turun dari pesawat, mengikuti barisan penumpang lain. Lies berada di depan.

Intainews.com:TIBA-TIBA terdengar suara pramugari mengumumkan, agar para penumpang tidak meninggalkan tempat duduk dan tidak melepas sabuk pengaman. Kondisi cuaca tidak begitu bagus, sampai pengumuman berikutnya.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi, namun oleh seorang anak muda yang duduk bersebelahan dengan Pida mengatakan, ini hal yang biasa saat pesawat menuju udara lebih tinggi di atas awan. Sebentar lagi kembali tenang, dan saat pesawat akan turun kalau awan tebal, akan terjadi guncangan lagi.

Pida lekas mengerti, lalu menjelaskan kepada Lies yang duduk bersama ibunya di bangku depan. Begitu juga Lies menyampaikan kepada Pak Haji Sardan, yang menyampaikan kepada istrinya diteruskan pula kepada Wak Toton dan istrinya. Akhirnya semua tenang, bersamaan dengan pesawat terbang mulus dan tenang. Mereka melihat keluar jendela, pesawat terbang di atas awan, seakan-akan melayang-layang di antara kapas-kapas putih.

Setelah pesawat meluncur tenang, datanglah pramugari mendorong tempat makanan, lalu membagi makanan sambil bertanya. Mau nasi goreng, nasi pakai ayam goreng, atau ayam rica-rica, tinggal pilih. Haji Sardan Nasi ayam rica-riva, istrinya nasi ayam goreng, Wak toton dan istrinya nasi goreng, Lies dan ibunya nasi goreng, Pida memilih nasi ayam goreng. Di sinilah enaknya naik pesawat Garuda Indonesia. Dokter Muslim memang sengaja memberikan yang terbaik untuk rombongan dari Medan.

Mereka pun membuka tempat makanan dan mulai makan, nasi yang masih panas.
Usai makan, langsung mengantuk dan tertidur pulas. Semua tertidur, penumpang lain juga tertidur. Tidak ada aktivitas. Bu Haji tidur mendekap lengan Haji Sardan yang mendengkur, karena memang sudah bangun sebelum subuh. Mereka dan penumpang lain tersentak dan membuka mata setelah pramugari mengumumkan pesawat segera mendarat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dengan tidak ada perbedaan waktu.

Lies berpesan kepada Pak Haji Sardan agar turun belakangan saja, tidak perlu buru-buru dan berdesakan. Seterusnya Bu Haji melihat dari jendela pesawat, inilah rupanya bandara cengkareng dan inilah Jakarta.

“Akhirnya, kita sampai juga ke Jakarta ini Bang,” kata Bu haji.

“Sudah kubilang, si Tini itu calon orang kaya,..”

“Kita naik apa, ke tempat si Tini Bang,” tanya istri Wak Toton kepada suaminya.

“Tak perlu kau tanya itu, kita ikut saja. Pasti kita sampai.”

Mereka pun mulai turun dari pesawat, mengikuti barisan penumpang lain. Lies berada di depan. Tiba-tiba HP-nya berdering, suara seorang laki-laki mengaku keponakan Dokter Muslim, menyebut dia akan menjemput dan membawa ke rumah di mana Tini berada. Pida menerima telopon dari Tini yang mengatakan, akan dijemput keponakan Dokter Muslim. Tini menyebut ciri-ciri lekaki yang menjemput, dan akan membentangkan kertas bertuliskan nama Lies dan Pida. Oke,…*Bersambung.