No.41

Tiba-tiba terasa pesawat berguncang keras, mereka semua pucat pasi. Bu Haji dan istri, Wak Toton takut sekali. Tidak terkecuali, Lies, ibunya, Pida, Wak Toton dan Haji Sardan juga sangat takut. Ini bagaimana?

Intainews.com:DIAM-DIAM, dalam hati Wak Toton dan istrinya, Haji Sardan bersama Bu Haji mengagumi Bandara internasional yang kelihatan besar dan canggih. Semua menjadi perhatian mereka, dan dibicarakan dengan bisik-bisik antar mereka agar tidak ketahuan kampungan dan terbelakang. Sekalipun mereka orang kampung, namun tidak mau sampai malu di depan anak kota, Lies dan Pida.

Makanan terasa sangat mahal membuat mata wanita kampung terbelalak. Lontong bisa sepuluh kali lipat harganya dari lontong yang dijual didekat rumah Haji Sardan. Lontong di kampung Rp 3.000,- menjadi Rp 30.000.- sepiring kecil. Begitu pula, teh manis, kopi, roti yang mereka makan semuanya mahal. Untungnya, kata hati Bu Haji yang bayar Pida. Sehingga mereka merasa hanya menyiapkan badan, segalanya sudah diatur Dokter Muslim. Tiket diboking dari Jakarta. Segala keperluan dalam perjalanan, Tini mengirimkan uang ke rekening Lies dan Pida juru bayar.

Usai sarapan, mereka menuju ruang tunggu. Bu Haji, suaminya, Wak Toton dan istrinya melihat pesawat parkir dan ada yang bergerak untuk segera terbang.

“Kita naik kapal terbang yang mana Bang,” tanya Bu Haji kepada suaminya dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Haji Sardan.

“ Kitan Naik pesawat Garuda, tu dia baru datang.”

“Jadi lama lagi lah kita berangkat.”

Paling satu jam lagi.”

Selanjutnya kedua pasangan itu menuju ke dekat kaca lebar memperhatikan kru pesawat memasukkan barang dan mengisi avtur pesawat. Lies mendekati Haji Sardan yang kelihatan sangat gembira.

“Tidak sangka, segalanya cepat sekali.”

“Itulah jodoh namanya. Mudah-mudahan Tini baik-baik dan bahagia. Kalau Tini senang, kami juga senang,” ujar Lies lalu bertanya apakah Ustadz sudah dikabari.

“Ya, saya kan harus pamit dan libur kerja mengantar buku-buku.”

“Ustadz bilang apa pak?”

“Ya,…mengucapkan selamat dan menyampaikan salam ke Tini,…”

Terdengar pengumuman penumpang jurusan Jakarta dengan Pesawat Garuda dipersilakan naik ke pesawat. Seluruh penmpang bergegas. Istrik Wak Toton dan Bu Haji dingin tangannya, jantungnya berdebar keras. Haji Sardan berbisik kepada istrinya agar berdoa. Lies dan Pida belum pernah naik pesawat dan belum pernah ke Jakarta, namun mereka tenang saja. Ibu Lies juga dingin tangannya.

Kini mereka semua sudah berada di pesawat. Masing-masing istri menggenggam tangan suaminya kuat-kuat saat pesawat meluncur kencang dan melambung ke udara. Rumah dan bangunan menjadi kecil, dilihat dari ketinggian.

“Oh, kalau kapal terbang ini jatuh jadi bubur kita semua, lihatlah bang tinggi sekali,” ucap Bu Haji yang segera diingatkan Haji Sardan agar jangan berpikir macam-macam. Tiba-tiba terasa pesawat berguncang keras, mereka semua pucat pasi. Bu Haji dan istri, Wak Toton takut sekali. Tidak terkecuali, Lies, ibunya, Pida, Wak Toton dan Haji Sardan juga sangat takut. Ini bagaimana? *Bersambung