No.40

“Anak bukti dari rasa cinta yang tidak tertulis dari kita berdua Ana….” Kata-kata suaminya bagaikan tawar sedingin yang menyejukkan hati  di tengah mantan kekasih suaminya menikah.

Intainews.com:DI RUMAH, Ustadz Daham menceritakan kepada istrinya Zuliana yang sedang mengelus-elus perutnya yang sedang hamil. Ustadz tidak ingin apa yang akan dikatakannya mengganggu pikiran Ana, yang dapat memengaruhi kehamilannya. Ia memulai dari Haji Sardan yang tidak dapat mengantarkan buku-buku seperti biasa.

“Kenapa? Ada apa Bang,…” Ana bertanya, sementara suaminya meraih telapak tangannya dan menggenggamnya pelan. Wajah Ustadz tersenyum.

“Besok Haji Sardan dan Bu Haji ke Jakarta…”

“Untuk apa Bang?”

“Diundang menghadiri pernikahan Tini. Haji Sardan menemani Uwak Toton, walinya si Tini,” kata Ustadz Daham datar saja. Sedang Ana memperhatikan wajah suaminya. Begitu pula suaminya memandangi wajah istrinya. Tidak lama Ana menjatuhkan kepalanya ke dada suaminya.

Alhamdulillah. Allah Swt menjadikan umatnya berpasang-pasangan, seperti kita Bang. Bagaimana perasaan Abang,…?” Ustadz Daham mendekap erat tubuh istrinya.

“Abang tidak merasakan apa-apa, tidak ada bedanya seperti anak tetangga, atau Umat lainnya menikah. Pikiran dan batin Abang lebih merasakan keadaan kita yang sedang menghadapi kelahiran anak kita, lalu membagi cinta kita berdua untuk mencintainya,… sepenuh hati kita…”

Istrinya tersenyum, meyakini cintanya yang seperti lautan tanpa batas terhadap dirinya.

“Bang, tahukah Abang Ana sangat sayang dan mencintai Abang?”

“Tahu. Tahu betul. Itulah yang membuat kita diberkahi jabang bayi. Anak bukti dari rasa cinta yang tidak tertulis dari kita berdua Ana….” Kata-kata suaminya bagaikan tawar sedingin yang menyejukkan hati di tengah mantan kekasih suaminya menikah.

Selanjutnya malam ini, Haji Sardan dan istrinya berkemas, menyiapkan pakain yang akan mereka pakai di hari pernikahan Tini. Subuh mereka dijemput taksi untuk di antar ke Bandara. Di sana berkumpul dengan Lies, ibunya dan Pida. Menjelang iang ini juga mereka akan terbang ke Jakarta.

Segalanya berjalan sesuai dengan yang direncakan. Sebelum fajar menyingsing, Uwak Toton dan istrinya, Haji Sardan dan Istrinya sudah berada dalam mobil yang meluncur kencang menuju kota. Apalagi jalan sepi, memudahkan mobil dengan gesit dan bebas bagai terbang ke arah Bandara di kota. Berulangkali para istri dalam mobil mengingatkan agar mengurangi kecepatan.

Anak muda yang menyetir mengurangi kecepatan setiap ada peringatan. Silap sedikit mulai kencang lagi. Demikian selanjutnya, membuat semua penumpang membelalakkan mata. Setelah matahari menyinari bumi sampailah mereka di bandara internasional yang baru, Bandara termegah di Indonesia. Begitu mereka turun dari mobil, Lies dan Pida menyambut kedatangan Haji Sardan dan rombongan. Menurut Lies, melapor ke kounter dulu, baru mencari restoran untuk sarapan. *Bersambung