No.39

Mendengar Tini segera menikah. Bibir Ustadz bergetar dan komat-kamit, tidak tahu apa yang diucapkannya. Matanya merah, berlinang air mata.

Intainews.com:TINI tidak segera menjawab, memandang sebentar ke wajah calon suaminya dan tertunduk. Air mata haru minitis membasahi pipinya. Dokter menghapus dengan jarinya. Lalu dokter bertanya, siapa keluarga yang akan dipanggil ke Jakarta untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Minggu depan acara pernikahan dan dua bulan lagi Resepsi perkawinan. Tini menyebut satu-satunya abang kandung ayahnya bersama istrinya. Ingin hati Tini mengundang Ustadz Daham, tetapi lebih baik di resepsi perkawinan saja.

“Sebut saja Tini, siapa yang mau diundang, supaya kita urus segera kedatangannya ke sini.”

“Kalau begitu ayah angkat saya, Haji Sardan dan istrinya.”

“Itu saja sayang,…”

Tini mengangguk dan darahnya berdesir Dokter Muslim mengatakan ke dirinya ‘sayang…’. Selanjutnya Dokter Muslim menghubungi Lies. Begitu terhubung diserahkan ke Tini. Lalu Tini menceritakan singkat kondisi dirinya yang segera menikah. Oh Lies setengah berteriak mengucapkan syukur dan gembira. Kemudian Tini menghubungi Haji Sardan. Tini meminta Haji Sardan ke Jakarta.

“Ada apa Tin jauh sekali.”

“Sudah, tenang saja Pak Haji. Hubungi juga Uwak Toton, dan ajak dia ke Jakarta. Bilang Tini mau menikah di Jakarta. Berangkatnya dari Medan bersama Lies, ibunya dan Pida, Lusa. Jadi gerak cepat.”

Haji Sardan tidak lagi berkata-kata, segera dihubunginya istrinya, mengatakan lusa berangkat ke Jakarta. Istrinya setengah kaget dan hampir tidak percaya, akhirnya dia sangat gembira. Dokter Muslim menyuruh keponakannya mengurus pesanan tiket orang-orang yang diundang ke Jakarta, serta disiapkan hotel penginapanan mereka  yang tidah jauh dari lokasi pernikahan.

Haji Sardan lalu bertanya apakah Ustadz Daham perlu diberitahu? Tetapi Tini tidak menyebutkan hal itu, sebaiknya ditanyakan saja dulu. Sebab dia akan ke Jakarta yang pasti harus pamit dengan Ustadz Daham dan istrinya, karena beberapa hari absen tidak mengurus buku-buku.

Kebetulan, malam ini ada moment Haji Sardan shalat isya di masjid. Usai shalat, diteras masjid Haji Sardan menyampaikan dirinya permisi untuk beberapa hari tidak masuk kerja mau ke Jakarta. Ustadz Daham pastilah bertanya, ada apa?

“Diundang Tini menghadiri pernikahannya di Jakarta.”

Terlihat darah tersirap di wajah Ustadz Daham dan tidak mengeluarkan suara. Diam hingga lima menit lamanya.

Alhamdulillah,…dengan siapa Tini menikah.”

“Katanya dengan seorang dokter, anak Jakarta. Itu saja yang saya tahu,…”

“Ya, sampaikan salam saya dan istri saya, selamat semoga Allah Swt memberkahi…” Ustaz Daham cuma berkata begitu. Namun H Sardan tahu, ada kehilangan di hatinya, tercerabut dari batinnya.

Sebelumnya Haji Sardan belum sempat menyampaikan pesan Ustadz Daham, yang mengatakan kepada Tini agar bersabar, Ustadz akan bertanggungjawab kepada Tini dengan menikahinya. Ustadz daham tertunduk, berjalan menuju pulang ke rumah bersama H Sardan. Bibir Ustadz bergetar dan komat-kamit, tidak tahu apa yang diucapkannya. Matanya merah, berlinang air mata. * Bersambung