No.32

Ketika merasa kakinya tidak jejak ke dasar danau, dia bergantung di leher Dokter Muslim. Dan laki-laki itu memeluknya mesra.

Intainews.com:HAJI Sardan yang penasaran tidak dapat menghubungi Tini dan dua sahabatnya mendatangi tempat tinggal Tini. Baginya pesan Ustadz Daham adalah amanah yang sangat penting, karena Ustadz mencemaskan keadaan Tini setelah mendengar cerita Haji Sardan. Bahwa Tini sakit dan kondisinya makin parah.
Ustadz tidak ingin ada apa-apa dengan Tini, lalu meminta Haji Sardan menyampaikan tausiyah yang dapat sebagai tawar sedingin bagi Tini. Untuk kembali membesarkan jiwanya kembali agar dapat aktif seperti sedia kala. Sementara dirinya kini menghadapi keadaan Zuliana istrinya yang semakin lemah, setelah hamilnya tumbuh membesar. Namun Zuliana tetap saja berusaha menjalankan bisinis perusahan penerbitan buku yang sedang naik daun.

Ketika Tini, sahabatnya dan Dokter Muslim riang gembira Di Danau toba, Haji Sardan mendengarkan cerita dari Mama Lies, bahwa Tini, Lies dan Pida pagi-pagi sekali sudah pergi ke Parapat. Berlibur di sana dan rencananya hari Minggu baru kembali. Mereka pergi dengan Dokter Muslim, adalah dokter Puskesmas. Ketika Haji Sardan bertanya, apakah dokter tersebut sudah berumahtangga, Mama Lies tak dapat memastikan. Tapi kelihatannya masih muda. Sampai di situ.

Di Danau Toba kini Tini, Lies dan Pida berenang bebas kian kemari. Tawa riang dan saling siram air menggambarkan betapa girangnya mereka. Dokter sudah dua kali menangkap tangan Tin, ketika gadis itu terperosok ke tempat paling dalam. Tin terlalu berani dan bersemangat berenang ke tengah. Padahal Dokter Muslim sudah mengingatkan di sebelah sana lebih dalam. Lies dan Pida cukup di pinggir saja, karena memang mereka kurang gesit berenang. Berbeda dengan Tini yang dilahirkan di daerah pantai, sejak kecil sudah berkecipung di air.

“Hati-hati Tin, beda danau dan laut. Ini danau vulkanik, kedalaman airnya terjal sampai limaratus dan seribu meter,” Lies mengingatkan.

“Di laut tempat yang dalam sangat jauh dari pantai,” ucap Pida pula ikut mengajari.
Tini diam saja, hanya matanya melirik ke arah Pida dan Lies dengan nafas terengah-engah sempat terminum air danau. Dokter muslim duduk di sebelahnya menepuk-tepuk pelah tengkuk Tini yang putih bersih, agar air yang tertelan dapat keluar.

“Sudah, nanti saya kasih obat,” kata Dokter sambil memegang telapak tangan Tini untuk kembali berenang dan dia akan tetap menjaganya. Lies dan Pida menyaksikan Tini dan Dokter semakin dekat saja. Ketika merasa kakinya tidak jejak ke dasar danau, dia bergantung di leher Dokter Muslim. Dan laki-laki itu memeluknya mesra. * Bersambung