No.29

Apakah di sini saatnya dia bertanya kepada gadis ini agar mau menemaninya pulang kampung?

Intainews.com:SELESAI sarapan mereka semua kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Lies merapatkan wajahnya ke telinga Tini, mengatakan ia mengantuk. Dia mau tidur, jadi biar di belakang saja. Tin tidak menjawab, hanya tersenyum memandang ke wajah Lies.

Melihat Tini yang duduk di sebelahnya, betapa riang hatinya. Banyak yang harus dikatakannya kepada Tini. Sesungguhnya liburan ini memang untuk bisa lebih dekat dengan Tini agar bisa dibawa ke Jakarta, dikenalkan kepada ibunya. Selama ini dia sibuk berkarir sebagai dokter, tanpa menghiraukan kata-kata ibunya. Kali ini ibunya memaksa, dan dokter harus memenuhi permintaanya. Dan baginya seperti tidak ada basa-basi, dirinya pun tak pandai merayu. Tidap punya pengalamn itu.

Dokter melirik ke belakang melalui kaca spion. Lies dan Pida sudah tertidur pulas menikmati udara dingin dalam perjalanan. Hanya Udin yang tidak tidur. Menjaga barang-barang dan menikmati lagu-lagu bernuansa islami.

“Tin, bagaimana kondisi sekarang?”

“Sehat,…”

“Ya itu makanya kita berlibur. Kalau belum sehat, ya istirahat dulu.”

“Sudah sehat dok. Kepingin berenang di danau.”

“Ya, saya juga suka berenang,…” begitu kata dokter, dan Tini memandang ke arah Dokter. Ternyata mereka punya hobi yang sama. Beberapa menit kemudian keduanya diam. Tini memandangi pohon karet dan kelapa sawit di kiri kanan jalan. Seterusnya beberapa saat, keduanya tenggelam dengan perasaan masing-masing. Sungguh cantik si Tini ini. Insya Allah ibu senang jika diperkenalkan kepadanya, dokter berandai-andai. Tetapi bagaimana memulai untuk mengatakan kepada Tini agar mau ikut  ke Jakarta.

“Sebenarnya, terhitung Senin depan saya sudah mulai menjalani cuti. Dan berencana kembali ke kampung menemui ibu yang sudah rindu katanya.”

“Kampung Dokter di mana?”

“Di Jakarta.”

“Kalau itu bukan kampung, tapi ibukota.”

“Tapi di situlah saya dilahirkan di Jakarta Timur. Persis berbatasan dengan Bekasi.”

“Senang ya, masih punya orangtua.”

“Tinggal ibu, ayah sudah meninggal dunia.”

Keduanya kembali hening, kembali terbawa dengan pikiran masing-masing. Entah apa tiba-tiba pikiran Tini terbawa kepada sebuah pertanyaan, siapa sesungguhnya gadis yang beruntung akan disunting kelak olek lelaki yang telah memiliki profesi dan penghasilan yang menjamin kehidupan. Lelaki ini di mata Tini bagai tidak ada cacatnya, bisa menjadi imam dalam rumahtangga.

“Sedang melamunkan apa Tin?” Pertanyaan dokter hanya dijawab dengan menggeleng. Apakah di sini saatnya dia bertanya kepada gadis ini agar mau menemaninya pulang kampung? *Bersambung