No.28

Lies berusaha menarik perhatian agar Dokter tidak lebih banyak melihat ke arah Tini.

Intainews.com:KETIKA Matahari penuh menyertai perjalanan, Dokter Muslim tiba-tiba menyebut kelihatannya kita sudah harus sarapan. Pida yang dari tadi sudan menanti kapan sarapan, karena perutnya mulai melilit. Tini juga sudah dari tadi ingin sarapan. Lies yang berkata terang-terangan, dari tadi sudah menunggu kapan sarapannya. Udin di belakang juga heran, makanan dibawa buat apa? Mau dimakan di mana?

“Mbak Lies, ingatkan saya kalau perlu sesuatu. Sampaikan saja, jangan segan-segan,…” ungkap Dokter kepada Lies.

“Oke, kita sarapan di mana?”

“Cari tempat kedai kopi yang tidak menjual nasi. Nah,…itu …” Lies menujuk. Mobil diperlambat dan berhenti. Tapi harus mundur sedikit. Pida segera turun menemui seorang ibu yang melayani pembeli. Menyebutkan apa bisa numpang sarapan dan hanya memesan minuman?. Ibu itu menerima dan segera menyiapkan meja panjang dan kursi dibantu Pida.

Rombongan segera turun. Lies dan Tini membawa makanan. Mereka segera duduk. Lies mengambil piring, Tini membuka tutup rantang, kelihatan rendang. Yang Lain membuka nasi. Lalu Lies mengambilkan nasi untuk Dokter Muslim.

“Oh, biar saya ambil sendiri,…” kata dokter. Lies kemudian mengambil untuk dirinya. Sebenarnya dokter ingin diambilkan oleh Tini, tetapi gadis itu seperti Pida mengambil nasi unthuk dirinya sendiri.

Dokter Muslim duduk di antara Lies dan Tini. Di sebelah kirinya Tini dan di sebelah kanannya Lies. Pida berada di depan bersebarangan dengan Dokter. Mereka mulai Sarapan. Ini yang pertama sekali mereka melihat dokter makan. Menurut Tini, Dokter makan sangat teratur dan terhormat. Lies melihat dokter makan sama kesannya dengan Tini. Pida tidak memperhatikan itu. Dia serius menghadapi makanannya sendiri.

Dokter kembali mengingat dirinya  ingin kalau Tini yang mengambilkan nasi untuk dirinya, menaruh sambal goreng udang dan menyediakan minumannya. Tetapi Tini tidak sedikit pun memikirkan itu. Melihat Dokter, Tini biasa saja. Dokter ini baik yang membuat dirinya sembuh dan kata-katanya membuat ia percaya, karena benar apa yang duucapkannya.

Lies berusaha menarik perhatian agar Dokter tidak lebih banyak melihat ke arah Tini. Pida datar saja. Dia makan dengan lahap. Pikirannya ingin segera sampai, agar bisa lekas mandi Danau Toba yang airnya dingin dan segar. *Bersambung.