No.27

Dari kaca spion Dokter Muslim mencuri pandang ke wajah Tini yang tak sadar wajahnya diperhatikan.

Intainews.com:USAI shalat subuh, Dokter Muslim langsung menghidupkan mesin mobil. Pembantu di rumahnya, Udin ikut dibawa Dokter berlibur ke Parapat bersama tiga gadis mahasiswi. Selain Udin bisa berlibur ke Parapat, di sana dia bisa membantu apa-apa yang diperlukan, begitu menurut dokter.  Udin kelihatan begitu girang dibawa berlibur ke Parapat yang belum pernah didatangi, kecuali melihat di televisi dan cerita dari teman-temannya bagaimana suasana Danau Toba.

Di tempat tinggal Tini, Pida sudah sampai. Mereka menyiapkan barang-barang bawaan. Ada nasi lemak, rendang dan sambal goreng udang campur tempe. Timbul selera Pida melihat itu. Lies sudah duduk di kursi depan, menunggu Dokter Muslim datang menjemput. Tak lama dokter muncul. Pida segera memasukkan barang-barang bawaan ke mobil. Tini ikut membantu begitu juga Lies.

Kemudian Pida menaikkan tas gendongnya. Diikuti Lies. Tas Tini, dia sendiri yang memasukkan ke mobil. Dokter mengenalkan Udin yang rikuh melihat gadis-gadis cantik. Baginya agak mengejutkan, rupanya Om Dokter Muslim punya teman wanita juga, cantik-cantik. Oke, Dokter sudah berada di belakang stir. Dokter menunggu siapa yang duduk di depan. Tin memilih di bangku tengah, Lies juga. Pida sama, memilih di bangku tengah.

“Tin kamu di depan,” kata Pida.

“Kita di sini saja,…Lies ke depanlah.” Tini malah menyuruh Lies.

“Okelah, siapa takut.” Ujar Lies sambil pindah ke kursi depan berdampingan dengan Dokter Muslim. Padahal Dokter berharap Tini yang berada di sampingnya. Mendapat kesempatan duduk berdampingan dengan dokter muda yang gagah dan ganteng, betapa berbunga-bunga hati Lies. Di belakang sekali Udin bersama barang-barang bawaan. Pida mengatakan, tepat sekali ada Bang Udin yang bisa tolong menjaga makanan agar tidak sampai tumpah.

Bersama lagu-lagu popular bernuansa islami mobil meluncur di jalan mulus menuju ke Danau Toba yang terkenal indah. Matahari dengan sinarnya yang lembut mengiringi perjalanan pertama bagi dokter ditemani tiga wanita cantik. Kendati di dalam pikiran dan hati  Dokter sebaiknya Tini yang paling pantas untuk dibawa kepada ibunya di Jakarta pekan depan.

Walaupun dalam imajinasi Lies dirinyalah yang tetap akan dibawa ke Jakarta. Dokter itu dari etnis Minangkabau, Mama Lies urang awak, orang Minang. Cuma ayahnya etnis Mandailing. Tini ayahnya Etnis Jawa, ibunya dari etnis Melayu. Pida, ayah dan nyaknya etnis Aceh.

Otomatislah dia orang Aceh, dan semuanya Indonesia, tapi Lies semakin merasa Ibu Dokter Muslim suka dengan dirinya. Dari kaca spion Dokter Muslim mencuri pandang ke wajah Tini yang tak sadar wajahnya diperhatikan. Betapa cantinya gadis ini. Begitu kata hati Muslim  *Bersambung