No.26

Biarlah sahabatnya itu mendapatkan cintanya yang abadi. Haji Sardan dan Ustadz tidak boleh tahu ini, yang bisa mendatangkan persoalan baru.

Intainews.com:LIES senang sekali mendengar pernyataan Tini dua hari lalu, bahwa dia seperti tidak suka dengan Dokter Muslim. Mimpinya masih terus bisa menikah dengan Ustadz Daham. Sampai malam ini, saat Dokter Muslim menanya Pida bagaimana kepergian besok subuh ke Parapat. Pida melaporkan dirinya siap. Lies juga siap. Ketika Pida belum sempat menyebut tentang Tini, Dokter lebih dulu bertanya.

“Bagaimana dengan Tini?”

“Wow, dia sudah sangat siap. Kondisinya sehat sekali, bahkan lebih sehat dan segar dari sebelumnya…”cerita Pida melaporkan apa yang ditanya oleh Dokter Musil. Tiba-tiba Dokter bertanya agak pelan, berada di mana saat ini Pida.

“Saya di rumah Dok. Saya tinggalkan Lies dan Tini sedang merasak rendang untuk lauk makan kita di perjalanan.”

“Oh bagus sekali itu. Biasanya saya susah sekali mendapat rendang di rumah makan yang sama dengan yang dimasak ibu saya.”

“Kalau begitu coba dulu masakan Tini dan Lies. Kami semua bisa masak rendang yang enak,…”

Alhamdulillah…..” kata Dokter, selanjutnya beberapa saat sama-sama diam. Dokter ingin menanyakan kepada Pida tentang kesiapan Tini dengan pesan yang disampaikannya,…

“Oh,…maklumlah Dok, perempuan itu tidak pernah secepatnya menjawab soal, suka,…cinta atau sejenisnya. Ia tersenyum saja saat saya singgung pesan Dokter.”

“Wajahnya, kira-kira seperti apa? Soalnya ibu saya medesak terus. Saya tidak punya kenalan dekat dengan perempuan, kecuali kalian bertiga…” tutur Dokter dan Pida memotongnya.

“Panah Amor yang dilepas ke arah Tini ya,….”

“Ya begitulah keputusan hati secara cepat. Apakah saya sendiri yang harus mengatakannya langsung,..”

“Bisa jadi begitu Dok. Ada Waktu tiga hari liburan ke Parapat, tanpa setahu kami bilanglah,.. Siapa tahu dengan begitu Tini bisa tegas dengan kejujuran hatinya.”

“Ya,….ya. Oke Jumpa besok subuh. Kita istirahat.” Begitu kata terakhir Dokter dan memutuskan hubungan telephone.

Dengan ceritanya tadi, yakinlah Pida, Dokter menjadi serius dan dalam waktu dekat akan membawa Tini kepada ibunya di Jakarta. Diperkenalkan dengan keluarganya. Dengan begitu, berpisahlah dirinya dan Lies dengan Tini. Biarlah sahabatnya itu mendapatkan cintanya yang abadi. Haji Sardan dan Ustadz tidak boleh tahu ini, yang bisa mendatangkan persoalan baru. Itulah putus hati Pida dan tenggelam dalam tidur. * Bersambung