No.24

“Terus terang Tin, aku menyukai….Dokter ganteng itu,….” kata Lies dengan suara perlahan dan bersandar di bahu Tini

Intainews.com:HARI INI Haji Sardan sangat sibuk mengurus buku cetakan baru, karya temannya Ustadz yang sudah siap dicetak. Siang ini haru sampai ke rumah untuk seterusnya sudah bisa diambil oleh beberapa orang yang sudah memesannya. Di tengah kesibukannya itu, Lies menghubunginya. Lies menyampaikan pesan Tini agar Haji Sardan bisa mampir ke rumahnya, ada yang mau disampaikan Tini. Dengan berat hati Haji Sardan menolak bertemu, dan menyebutkan kesibukannya. Mungkin besok bisalah bertemu. Lies menyetujui, sebagaimana yang dikatakan Tini.

Kondisi Tini sudah pulih, kendati belum sekuat dan selincah biasanya. Tini sudah mau makan dan lahap, walaupun harus setengah dipaksa Lies untuk disuapi. Sambil disuapi Lies, Tini berkata dalam hati, apa yang dikatakan Dokter Muslim ada betulnya, cinta itu fitrah, siapapun bisa mengalaminya. Tetapi harus realistis. Tidak boleh sampai dibutakan oleh bunga-bunga cinta.

“Ada betulnya Dokter Muslim. Cinta tidak boleh buta oleh rayuan. Cinta sejati hanya tampak jika melihatnya dari hati,…” ungkap Tini. Dan Lies menguatkan tentang Dokter Muslim, seperti orang sedang jatuh cinta ingin lebih banyak menyebut namanya. Lies mengakui, hatinya semakin tertarik dengan dokter.

“Kuperhatikan pelan-pelan, kuanalisa sebelum tidur, banyak yang benar dikakatakan dokter yang satu ini,…..”

“Pida yang paling banyak tahu soal Dokter Muslim. Kulihat dia dekat dengan dokter itu, jadi jangan kamu ganggu dokter itu, biarkan saja dia menjalani fitrahnya,…untuk jatuh cinta yang benar,…” Tini seperti menasihati Lies, yang isinya Dokter Muslim Milik Pida.

Lies jujur, tidak dapat menutupi hatinya, dia akhir-akhir ini berusaha untuk menarik perhatian Dokter Muslim. Sesudah melalui kotemplasi (perenungan) selama beberapa hari ini, dan mama setuju, Lies merasa Dokter Muslim dikirimkan Tuhan untuk dirinya.

“Tidak Tin, tidak. Sebelum janur melangkung, dokter ganteng itu tak ada yang punya. Siapa pun boleh masuk.”

Tini memandang wajah Lies yang serius. Hati Tin berkata,…Lies menyuap Tin yang terakhir.

“Ada apa Lies? Cobalah lihat dari pikiran, supaya kau tidak buta. Sebab, pikiran itu sangat bijak. Ia bisa memilah dan memilih mana kata-kata yang akan kamu miliki.”

“Terus terang Tin, aku menyukai….Dokter ganteng itu,….” kata Lies dengan suara perlahan dan bersandar di bahu Tini.

“Bicarakanlah dengan Pida dan jangan buat hati sahabat kita itu kecewa,….” begitu ungkap Tini. Hop!

“Asalamualaikum,….” Pida muncul di depan pintu. * Bersambung