No.23

“Bang, nanti malam kita cari soto udang galah,” kata Ana menjatuhkan kepalanya ke bahu suaminya dengan manja.

Intainews.com:Dokter bertanya kepada Lies, apakah mereka bertiga bersedia, Sabtu dan Minggu pekan depan berlibur ke Parapat.

“Coba tanyakan pelan-pelan kepada Tini apakah dia bersedia atau tidak. Tentu kalau sudah sehat. Tanya juga Pida. Diskusikanlah.”

“Iya Dok, kami rembukkan dulu ya Dok,…” kata Lies dengan hati yang sangat riang. Waktu liburan yang panjang nanti akan digunakannya mendekati Dokter Muslim.

“Aku merasa dia ingin tahu banyak tentang kita. Dia ingin tahu watak dan karaktr kita, hati-hati Lies.”

“Silakan dia lihat kita selama ini baik-baik saja, walaupun kita kelihatnnya terbuka dan egaliter, bukan berarti kita menghalalkan segala cara. Kita semua belum pernah cacat dengan kejahatan apa pun,…” ungkap Lies.

“Kita harus lebih banyak berhati-hati, kalau kita tidak mau ada apa-apa. Hari ini mencari orang baik tidaklah mudah. Tetapi untuk semua itu kita tetap berperasangka baik,…” Tini berpesan kepada Lies dan Pida.

Kedua temannya itu, kelihatan sudah mulai sembuh. Mereka senang, obat dari Dokter Muslim mujarab juga.

“Cinta itu selalu tidak akan tampak lewat mata, tetapi dengan pikiran. Kemudian sayap Dewi Amor akan membutakan hati kita. Begitu kata orang bijak. Aku tidak mengerti apakah aku tergolong yang buta?” Tin bertanya kepada sahabatnya, tetapi Lies dan Pida merasa sulit menjawabnya.

Sementara Minggu sore ini di rumah Ustadz Daham. Suasana cerah dan sedikit berawan, Ustadz dan istrinya menonton televisi. Sekali-sekali Ana memegang perutnya yang hamil tapi belum kelihatan membesar. Menurut dokter, hamilnya baru jalan bulan kedua. Ana berusaha menguatkan diri dengan tetap penuh semangat mengurus perusahaan penerbitan buku-buku agama, sehingga dia tetap kelihatan lemah. Menurut suaminya Ana tidak suka makan dan banyak saja yang diinginkannya.
Ustadz Daham yang terbiasa menghormati Bundanya, senantiasa siap menghormati dan melayani dengan baik apa yang dibutuhkan istrinya, sehingga terkesan memanjakannya.

“Bang, nanti malam kita cari soto udang galah,” kata Ana menjatuhkan kepalanya ke bahu suaminya dengan manja.

“Ya,…ya. Abang pun sudah kepingin soto udang itu.”
Ana menyinggung buku teman se-alumni Kairo Ustadz Daham besok sudah selesai.
“Saya sudah mulai buat promosinya,…”

“Jangan dipaksakan sekarang. Besok saja saat tenang-tenang,..”

“Tapi bisnis tidak boleh begitu Bang. Harus tetap berjalan,…”

“Ajari abang. Biar abang bisa mengerjakan.” * Bersambung