No.22

“Kalau aku dikuliahkan agama sampai Kairo, belum tentu aku kalah dari Ustadz Daham.”

Intainews.com:SEPANJANG jalan kembali ke tempat tinggalnya, Dokter Muslim diam-diam memiliki penilaian kepada tiga gadis yang kelihatannya baik dan riang. Kecuali Tini yang sedang sakit. Namun hati kecilnya meyakini, kalau Tini aslinya luarbiasa, pintar, cerdas, cantik sekali. Bentuk tubuh dan wajahnya seperti karya seorang pelukis naturalis yang senior dan mampu membuat bentuk tubuhnya sempurna untuk dipandangan mata.

Dokter Muslim banyak tahu dari Pida dan Lies tentang cinta Tini yang sangat menggebu dan luar biasa laksana gunung meletup terhadap seorang yang mereka sebut Ustadz. Padahal lelaki itu sudah memilih wanita lain dan mereka seperti bahagia. Itulah ekses kalau wanita tipe setia, sekali tersentuh hatinya sulit menghilangkannya,
Gadis Tinilah yang perlu didekatinya, paling tidak mengembangkan bakat dokternya yang senang menyembuhkan orang-orang yang sakit dan terluka. Tini sakit jiwanya, dan terluka hatinya. Setelah dapat disembuhkan hatinya, fisiknya segera menyusul sembuh karena sprit hidupnya menjadi sempurna.

Tini harus disembuhkan pembawaannya yang suka menggantang asap. Menjadi buruklah bagi manusia yang hidupnya fiksi-fiksi dan imajinasi liar. Imajinasi sangat dibutuhkan manusia apabila disertai persepsi hidup yang cukup. Tini masi terlalu muda untuk bermain-main dengan imajinasinya.

Sukailah semua orang, tapi cintailah satu orang dan percayai beberapa saja. Inilah dasar untuk orang belajar lebih bijak, Dokter mengingat semua yang saat kuliah rajin membaca buku-buku filsfat. Belajarlah menjadi bijak saat bergaul dengan orang lain. Sebab, tidak semua orang bisa menjadi sesuai harapanmu.

Bersamaan dengan kata terakhir itu, mobil yang dikensarainya sudah sampai ke depan pintu pagar. Bang Udin yang membantu merawat rumahnya sehari-hari membukakan pintu itu.

“Om, tadi telepon dua kali berdering,…”

“Dari siapa?”

“Katanya teman Om kuliah.”

“Namanya,…”

“Lila,” kata Udin sambil mengecek nama yang ditulisnya di kertas selembar. Dokter mengangguk dan tersenyum bertanya kepada Udin, apakah sudah makan. Udin mengangguk.

Di rumah Tini, Lies dan Pida masih berkumpul. Lies membicarakan tentang dokter yang menurut hatinya, ia menyukai Dokter Muslim Itu.

“Bagiku, dia sempurna. Dia laki-laki yang pernah ada dalam bayanganku. Ganteng, memiliki profesi yang bagus, dokter dan baik budi kelihatannya.”

“Kalau kau memang mau sama dia nanti kubisikkan sama Dokter Muslim. Aku setuju, kau pasangan yang ideal untuknya, kau cantik dan tinggi. Aku pendek, kalau berada di samingnya tidak harmonis. Biarlah aku menunggu pasangan yang harmonis utukku yang ditunjukkan Tuhan.”

“Kelihatan betul kau pemain dalam bercinta. Kalau sudah soal cinta, bicaramu seperti berkhutbah. Kalah Ustadz Daham dengan khutbahmu itu.”

“Kau tahu Lies, kalau aku dikuliahkan agama sampai Kairo, belum tentu aku kalah dari Ustadz Daham.” Pida sambil mengusik hati Tini yang tersenyum mendengar omongan Pida.

“Ha, sudah sembuh dia, sudah bisa tersenyum, sebentar lagi tertawalah dia. Mulailah kita kuliah dan hidup dengan riang gembira…”. Handphone Pida berdering, dari Dokter Muslim. Ada Apa…? *Bersambung