No.18

Handphone Lies berdering. Dari Pak Haji Sardan, ada apa? Apakah ada hubungan dengan Ustadz Daham?.

Intainews.com:DIAM-DIAM Pida menghubungi Dokter Muslim, setelah melihat kondisi Tini semakin lemah dan sekarat. Tidak lama Dokter Muslim sudah tiba di depan pintu tempat tinggal Tini. Lies memandang wajah Pida sambil membalas salam dari dokter yang segera masuk. Artinya ini kerja Pida. Dengan cekatan dokter Muslim memeriksa kondisi Tini.

“Ini bagaimana maunya Tini? Kodisinya parah semakin lemah badannya kurang gizi, itu artinya Tini tidak makan. Ingat,…daya tahan orang tidak makan ada batasnya. Sekarang maunya bagaimana Tin?” dokter tersenyum manis sekali sambil bertanya.

Sebenarnya, tidak tersenyum, marah pun Dokter Muslim kelihatan wajahnya enak dipandang. Itulah ciri laki-laki ganteng.

“Jadi bagaimana?” tanya dokter lagi yang membuat Pida tersentak kaget, rupanya Pida sedang melamun. Kalau Lies berpikir, sebaiknya Tin harus diopname.

“Tidak usah ngerepotin Lies, biarkan begini saja,…” mendengar diopname Tini tidak mau.

“Tidak bisa Tin, ini harus diopname. Keadannya sudah memerlukan diopname.”

“Kalau bisa jangan diopname Dokter,” ujar Tini lagi.

“Ya, tapi harus makan, jangan lupa makan sayur dan buah. Yang lebih penting pikiran harus tenang, jangan pikirkan yang aneh-aneh. Pikirkan kita masih mau hidup lebih lama supaya bisa beribadah dan menjadi penghuni surga,..”

Lies ingin menceritakan sesungguhnya apa yang menyebabkan Tini tidak mau makan. Lies terlambat, Pida sudah lebih dulu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Tini kepada Dokter. Mendengar kata-kata Dokter tentang ibadah, hati Tini  goyah, memilih panjang umur.

“Saya kasi obat dan vitamin yang bagus. Tapi obat ini bisa tidak ada artinya kalau tidak mau makan. Makan ya Tin,….” kata dokter dengan suara lembut. Tini menganggguk.

“Iya pak dokter,…” tukas Tini.

“Besok pagi saya datang ke sini dulu, baru ke Puskesmas. Kalau tidak makan, saya tahu, segera saja diopname,” ucap Dokter sambil mengucapkan salam dan berlalu.

“Sayang, dia cantik sekali. Jangan sampai ada apa-apa dengan dia,…” Pida mengatakan kepada dokter  untuk memancing hati dokter, mengantarkan ke mobilnya. Pida merasakan ada sinyal, kelihatannya Dokter tertarik dengan Tini.
Tidak lama mobil dokter hilang dari pandangan Pida, datanglah penjual sate yang biasa lewat di sini. Pida memanggilnya dan berlari ke arah Tini, apakah mau makan sate?

“Aku mau,” Lies menyambar.

“Ah, kalau kamu lies batu bata dikasih kuah sate pun lewat.”

“ Itu tandanya kita sehat, masih mau makan.”

“Tin, Makan sate ya, pakai lontong.” Tini mengangguk, keduanya senang Tini mau makan.

Handphone Lies berdering. Dari Pak Haji Sardan, ada apa? Apakah ada hubungan dengan Ustadz Daham?. *Bersambung